Musik POP Indonesia

Saya sering mengatakan , seniman musik modern itu jangan cuman tau urusan mencet2 alat / bikin lagu dan menulis lirik . Namun juga dituntut pemahaman mereka pada aspek sosiologis dan antropologis.

Dunia seni musik POP di Indonesia , seolah mengenyampingkan perannya dalam berkewajiban untuk menjadi bagian dari proses pembentukan/penguatan Kebudayaan modern dari masyarakat bangsanya sendiri. Dunia POP Indonesia tidak memiliki orientasi langkah yang jelas , guna men-definisikan lalu merumuskan cara2 sebagai metode2 yg seharusnya. Tak heran jika dunia POP Indonesia sekedar bersolek bedak dan gincu guna menghiasi topeng2 wajah yg cantik mempesona & rupawan , namun penuh kepalsuan.

Ilmu sosiologis dan antropologis adalah ‘alat’ kompas penunjuk arah , agar kita dapat menemukan / mengenali ‘teks’ persoalan kita sendiri. ‘TEKS’ adalah substansi realitas persoalan-persoalan apa saja yang ada disekeliling kehidupan kita sendiri.

Persoalan sosiologis bangsa maju (barat) , berbeda dengan persoalan sosiologis masyarakat yg sedang berkembang , apalagi dari peradaban yg tertinggal. Dalam konteks kesenjangan sosial , misalnya . Mereka tidak lagi berurusan dengan hal2 yang bersifat ‘kekerasan’ , baik itu kekerasan secara fisik maupun kekerasan lewat kalimat2 lisan. Hubungan dalam bermasyarakat antara si miskin dan si kaya tidak lagi dibayangi oleh rasa-rasa cemas karena dendam / iri dengki / sifat2 kecumburuan . Si Kaya boleh dan bisa2 saja naik limousine sementara si miskin hanya bisa ‘ngiler’ pengen diajak turut serta , walapun ternyata ditolak dan tidak boleh marah.

Kenapa bisa gitu? , sebab aturan dan hukum yang membuat seseorang bisa menjadi kaya , sudah tertata dengan baik , sudah ideal walaupun kesempurnaan hukum itu bersifat relatif . Seseorang bisa sukses dan kaya raya itu artinya ybs memang sudah bekerja dengan keras sesuai aturan2 dan hukum yang berlaku. Seseorang belum bisa kaya atau bahkan miskin , karena memang biasanya ybs tidak/belum mampu menembus ketatnya persaingan yang terjadi. Atau jangan2 emang malas dan cuman mau ikut2an dengan apa yang sudah ada. Yang model begituan … tersingkir dan sudah tidak ada lagi tempatnya.

Karena itu pula secara sosiologis kalimat2 protes sosial yang biasa kita dengar lewat musik RAP / Rock and Roll dan sebagainya (including cara2 berpakaian / mimik ekspresi bertutur dsb) , tidak otomatis sama atau bahkan jauh sangat berbeda dengan substansi yang secara sosiologis terjadi didalam problem kehidupan masyarakat kita sendiri.

Sedangkan aspek antropologis itu bicara soal “ente darimane’ datengnye , kampung ente’ dimane’ , ente sarapan makan ape’ , engkong ente’ itu kalo ngomong pake bahasa ape’ … ape cas cis cus kayak ente sekarang?

Budaya POP memang bersifat menyerap , tetapi harus tau apa yang mau diserap . Jangan asal menelan karena terprovokasi oleh keterpesonaan pada sensasi yang diciptakan oleh industri . Apalagi industrinya sendiri bersandar pada kepentingan modal bangsa asing .

Meniru harus kreatif , kreatif itu artinya mampu berpikir jangka panjang untuk sadar ber-proses menemukan identitas karakter yang unik / lebih spesifik dari apa yang ditiru . Dan tentu saja secara ekonomi output-nya harus bermanfaat bagi masyarakat dilingkungan hingga bangsanya sendiri.

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara