dunia musik pop yg semerawut

salah satu penyesatan pikiran yang berlangsung selama ini didunia berkesenian khususnya di industri musik Indonesia … bermusik itu harus bisa menguntungkan pasar , kalau tidak menguntungkan disebut ‘onani’ , oleh karena itu pula profesi bermusik menjadi seolah stereotype dengan pegawai negeri … ada istilah pensiun bila tidak sejalan dengan kebutuhan suply , …. gebleg

sekali lagi saya tekankan , kondisi serupa ini terjadi karena absen-nya KRITIKUS yang berlangsung sampai dengan hari ini. Masyarakat jadi tidak mengenal sejarah sebagai landasan berpijak untuk membangun pola pikir yang ter-strukur dalam menilai dan memahami segala sesuatu yg berkaitan dengan dunia ber-kesenian.

Dunia mengenal Revolusi Industri di abad-18 yang diawali dengan temuan2 seperti mesin uap dan lain2nya hingga menyentuh tehnologi modern seperti robot dlsb. Semenjak abad itulah Musik / dunia Kesenian masuk menjadi bagian dari ranah revolusi Industri .

Namun ada perbedaan yg mendasar , tentang produk kesenian yg bersifat ‘intangible’ dengan produk2 budaya lain yg bersifat exacta .

Sebelum dikenal adanya revolusi Industri , peradaban mengenal kesenian sebagai media ekspresi yang menjadi alat2 pengabdian pada kehidupan , kepada sifat2 ber-ke-Tuhan-an yg dimanifestasikan menjadi pengabdian2 kepada masyarakat disekelilingnya. (sistem nilai).

Kesenian tidak bisa dipisahkan dari ‘kodrat’nya sebagai media ‘pengabdian’ diatas , walaupun diversifikasi dari produk2 seni itu sendiri saat ini ada yang hanya berfungsi berbeda , untuk sekedar mengabdi pada jalur Revolusi Industri yang saya maksud.

Kompromi dan lain sebagainya , harus ditempat dalam konteks pemikiran diatas . Sesuai fungsi dan perannya , bukan berarti bahwa kesenian harus tunduk dibawah aturan industri.

saya memilih jalur pop [kultur pop] untuk berkompromi dengan industri , itu sudah saya lakukan semenjak 1970’an. Namun saya menolak tegas ketika penguasa industri mau bertindak seenak isi perutnya sendiri. Mengabaikan etika , mengabaikan substansi estetika , hanya karena berkepentingan untuk men-design pasar agar sesuai dengan orientasi keuntungan dagang saja (materi)

kesemerawutan2 ini kondisinya diperburuk lagi oleh munculnya ‘pengamat2′ musik dadakan … yang hanya berbekal ‘selera’ dan hanya bergaul dengan radio , seolah serta merta sudah “cum laude graduate” untuk mendefisinikan dan membahas musik .

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara