Dirgahayu 66

Jumlah penduduk Indonesia yang semakin bertambah banyak , sementara lapangan kerja yang tersedia  semakin tidak memadai , maka diperlukan subsidi yang semakin membengkak besar , agar rakyat tetap bisa bertahan sambil dihidupi , dengan cara membungkam daya hidup mereka sendiri

Dipihak lain, kekuasaan membutuhan system politik yg kuat , system politik yg kuat gunanya untuk mengendalikan sistem-pemerintahan agar juga bisa kuat , namun jumlah konstituen masyarakat peserta politik yg terpisah secara geografis / ter-pencil2 , membuat partai politik perlu dana yang besar untuk membiayai organisasi2nya . Biaya yang besar itu diperoleh dari proyek2 pemerintah dengan cara mark-up ataupun mencuri APBN untuk bisa mengendalikan birokrasi yg tersebar di berbagai daerah.

Karenanya itu ada 2 kelompok rakyat di negri ini : a. rakyat pelengkap penderita b. rakyat pelengkap peserta maling Negara. Inilah substansi dari problem korupsi di Republik Indonesia. Sandiwara demi sandiwara yg dipertontonkan oleh televisi2  itu  cuma dagelan busuk untuk mengelabui persoalan2 sebenarnya. Oleh karenanya itu , sebelum akar permasalahan tentang bagaimana mengatasi persoalan kependudukan serta bagaimana cara2 untuk melengkapi hak2 kesejahteraan mereka terselesaikan dengan sebaiknya , maka semua partai politik yang ada di negri ini relatif  bullshit semua.

Politik itu seperti ‘jin’ , jangan dibenci tapi ditaklukkan. Orang yang apolitis dan alergi dengan politik justru menjadi santapan empuk yang mudah di-politisasi , digerakkan kesana kemari ,  disuruh maju dan mundur sampai masuk kedalam sumur tanpa disadari . Politik yang seperti sekarang ini adalah politik janji dan janji dan janji lagi , agar masyarakat tetap menghidupi orang2 dari kelompok politik itu sendiri , tidak ada hubungannya dengan janji2 dari konstitusi kemerdekaan.

Menurut saya kondisi sekarang ini bukan lagi seperti yang disuarakan oleh berbagai tokoh2 dari berbagai kalangan dengan ungkapan2nya seperti: “cara2 berpolitik sekarang sudah melenceng dari cita2 kemerdekaan”. Tapi antara keduanya memang sudah tidak ada hubungannya lagi : jangan malu2 untuk mengakui kenyataan . Katakan saja bahwa memang bangsa ini masih selalu dengan sengaja dikubangkan kedalam lumpur kebodohan.

a. selama masyarakat terpencil dipelosok penjuru wilayah desa2 (antar pulau antar tradisi) dng masyarakat di kota masih tersekat oleh tembok keterbatasan akses ekonomi maupun pendidikan & informasi

b. selama sistim rekruitmen ke-partai-an politik masih akal2an (jalan pintas) untuk mengatasi problem ‘a’ diatas

c. selama belum ada pemimpin REVOLUSIONER yang berani mendobrak perilaku ‘a’ dan ‘b’ diatas

Maka , siapapun yang akan terpilih menjadi pemimpin dengan cara2 spt sekarang ini , akan selalu terjebak dan tak bisa menghindar dari:

1. Paradigma “Menghutang pada asing” hanya untuk bisa makan (biaya konsumsi) , bukan “Menghutang untuk Membangun Kemandirian Bangsa”

2. Korupsi berjamaah untuk mempertahankan posisi2 strategis yg hanya untuk kepentingan serta keuntungan masing2 golongan partainya sendiri2.

Kemarin partai X … hari ini partai Y … esok akan ada partai Z , demikian seterusnya sampai seluruh kekayaan sumber daya alam Bangsa Indonesia habis terkuras oleh bangsa asing , lalu ber-sama2 men-deklarasikan dirinya sebagai Negara Gagal karena bangkrut , dan kembali menjadi koeli2 di pelaboehan.

Kali nanti sebagai ‘Koeli Tourism’ tidak lagi sebagai ‘Koeli angkut barang’ yang dahoeloe kala memikul sayur mayur & rempah2 diatas poendak mereka , karena memang sudah tidak ada lagi yg dipikul & diangkut kecuali kopernya meneer-meneer en mevrouw-mevrouw :(

17 Agustus 2011 … dirgahayu Republik Indonesia yang ke 66 tahun “BANGUNLAH dan MELEK! , bersihkan belek dimata”

jsop

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara