dora amtenar

Orang boleh saja bicara setinggi langit untuk membahas gagasan serta ideom2 masa depan yang ideal didalam benaknya masing2 , namun seyogyanya punya kesadaran inhern bahwa kalimat2 retorik bukan untuk menuai derai tepuk tangan. Semua itu harus disertai dengan argumentasi fakta obyektif yg empiris dengan kenyataan dalam hidupnya sendiri

Seperti lazimnya seorang musisi bila cuman pinter ngomong saja  , padahal orang lain akan melihat fakta empirik lewat organ fisik ditubuhnya ketika ybs memainkan alat musik sebagai landasan argumentasi yang dibangun.

Kata-kata membentuk wujud dalam pikiran [intangible] … produk/karya adalah fakta kenyataan [tangible]

Inilah era keterbukaan jaman , dimana setiap orang harus mampu membaca persoalan hidup secara komperehensif / menyeluruh. Orang sudah harus belajar untuk bisa membedakan , mana perilaku ‘jiwa yg sakit’ yang hanya bisa ngomong doang untuk menutupi segala kelemahan. Atau sebaliknya , orang yang mampu melahirkan karya/produk namun tidak mampu menguraikan maksud dan tujuan , lari terbirit-birit pontang panting kiri kekanan tanpa penjelasan.

Hal2 seperti ini pulalah sebagai kelengkapan2 yang saya pahami dalam pengertian “hidup harus seimbang”. Agar orang lain mampu membaca pikiran diantara sesamanya untuk bisa membangun kerjasama dalam bidang2 apa saja.  Tidak cuman berdiri diatas mimbar sendirian , pidato sendirian , entah siapa yang bisa memahami substansi omongan2nya … yang penting ada TEPUK TANGAN , karena ada bayaran

Singkirkan mental kacung inlander yang mengabdi pada amtenar2 sebagai budak suruhan dari para kapitalis penjajah

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara