etika profesi

Ditataran kerja secara praksis & pragmatis dibidang apa saja , semua akan jadi semrawut kacau-balau jika kompetensi tidak diletakkan sesuai pada tempatnya. Kompetensi adalah sarana inter-koneksi dari berbagai disiplin ilmu untuk menjadi jembatan bagi terciptanya kerjasama yang menghasilkan produk yang berkualitas dan bermanfaat.

Cobalah tengok , dari mulai struktur kerja di level pemerintahan hingga berbagai organisasi swasta bahkan sampai dengan pergaulan kelompok2 kreatif ditengah masyarakat sipil . Bisa dihitung dengan jari siapa2 saja yang secara disiplin masih menerapkan Etika Profesi , walaupun pada akhirnya nanti kelompok itupun tak akan berdaya menghadapi mainstream yang lebih berkuasa mengendalikan otoritas kebijakan.

Saya akan bicara ditataran pergaulan kreatif musik saja dulu. Orang / masyarakat seringkali tidak mau belajar untuk menyadari , bahwanya keberhasilan apa saja , atau siapa saja , yang pernah dicapai dimasa yg lalu , adalah keberhasilan kolektif karena kerja teamwork yang secara tidak sengaja menempatkan disiplin-disiplin kompetensi diatas.

Namun ketika keberhasilan tersebut menuntut keberhasilan2 lanjutannya , maka disanalah kelemahan kita semua untuk tidak mampu berkaca diri … siapakah aku? dimanakah sebenarnya aku harus berdiri  menempatkan posisi diruang kompetensiku sendiri .

Semua orang atas nama popularitas dan keberhasilan yang pernah dicapai merasa paling pintar sendiri2 dan paling tau atas segalanya.Masyarakatpun ‘menutup mata’ … pokoknya yang namanya kecap harus nomer 1 , titik!

Ada apakah gerangan dengan mentalitas orang Indonesia ini? . Satu2nya alasan yang dapat saya pergunakan lewat akal sehat pikiran adalah: Tidak dihargai dan diberdayakannya  BUDAYA RISET dimana terangkum budaya analisys hingga budaya kritis sebagai prasyarat menuju peradaban manusia modern yg sesungguhnya.

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara