Kritik dan Benci

KRITIK itu jurusannya ke profesionalisme kerja (kompetensi profesi dalam bekerja) sedangkan BENCI itu jurusannya ke sirik iri dan dengki (subyektivitas yg menguasai cara berpikir seorang manusia)

Kritik kepada dunia olahraga atau sepakbola itu kritik yg jurusannya kepada cara2 profesional dlm mempersiapkan diri untuk bertanding , tidak ada hubungannya dengan ‘jampi2 kutukan’ dan ‘nasionalime sempit’. Sedangkan menyikapi upacara / seremonial atau ritualisasi SBY mantu , itu domain ADAT ISTIADAT , tidak ada hubungannya dengan musyrik dihadapan Allah SWT. Mari kita belajar menjadi manusia yang lebih dewasa , yg bisa membedakan antara KRITIK dan BENCI

Orang yang mengumbar kebencian pada Malaysia , andaikan suatu saat Malaysia mampu menjadi ‘macan asean’ (ekonomi dll) sementara Indonesia semakin terpuruk … maka bencinya akan berubah menjadi sayang luar biasa , karena sudah berketergantungan dalam segala hal pada Malaysia.

Orang yang mengumbar kebencian pada SBY . andaikan suatu hari dia dipanggil lalu diberikan jabatan/posisi yg nyaman … maka seketika akan cinta setengah mati kepada SBY , lupa dan nggak peduli lagi dengan kritik yang sok profesional-nya

Masyarakat yg feodalistik itu masyarakat dengan naluri ‘kekuasaan absolute’ yang nggak bisa di kritik. Bawaannya selalu marah dan menjadi pembenci kalau di kritik . Karena merasa sudah menjadi wakil tuhan di atas bumi.

‘feodalisme’ itu bukan sebatas otoritas warisan masa lalu [sys monarkis] . ‘Feodalisme’ juga bisa bermetamorfosis melalui agama yang mengadopsi kultur budaya bangsa lain sebagai alat legitimasinya. Adat Istiadat memang harus dipelihara , bukan untuk diberlakukan lagi dogma2 ‘kuno’ nya (feodalisme) . Namun , sebatas sebagai ‘upacara’ … yang bisa juga dijadikan sebagai ‘nilai/value bagi dunia pariwisata dlsb’. Namun yg jauh lebih penting adalah ADAT ISTIADAT itu sumur yang membidani KEARIFAN2 cara berpikir khas orang Nusantara.

Visi kita sebagai Bangsa Indonesia itulah yang sampai saat ini masih ‘kabur dan samar2′ … ibarat saat mereka (founding fathers) semua berkumpul untuk bersepakat (28 ock 1928) mengusir penjajah … itu semua kan punya tujuan dan maksud. Soekarno menetapkan ‘KESATUAN’ yg dipahami sebagai ‘sentralistik’ atau demokrasi terpimpin , sementara Hatta dll. lebih condong ke Federalisasi (mengingat kemajemukan). Soeharto lebih mengaplikasikan gagasan Soekarno … yg ternyata di era globalisasi ini menghadapi tantangan berat.  Sampai saat ini GBHN atau ‘blue print’ bangsa ini sebenarnya mau kearah mana dsb menjadi ‘abu-abu’ dan sulit dibaca.

‘jangan se-kali2 melupakan sejarah’ [:Soekarno] disingkat menjadi ‘JASMERAH’. Indonesia saat ini digerecokin oleh masalah2 yg bukan substansial bagi kelanjutan hidup dalam Ber-Bangsa (berkelanjutan).

Kita disibukkan dengan urusan2 ‘Demokrasi sempit’ , urusan dalam ber-Keyakinan Agama , urusan Ekonomi berjangka pendek dst . Sementara urusan bagaimana saya sebagai orang Jawa agar bisa tetap hidup dengan rukun dan damai berdampingan dengan suku2 bangsa lainnya atas nama Indonesia …  menjadi ‘tercederai’ .

Singkat kata: “Indonesia sampai detik ini hanya merumuskan bagaimana cara2 yang baik dan seharusnya ditempuh dalam ber-NEGARA , dengan mengenyampingkan persoalan2 bagaimana seharusnya mengelola sistim ber-peri-kehidupan dalam ber-BANGSA.

Mungkinkah bisa Ber-Negara tanpa kualitas memadai dalam Ber-Bangsa

jsop

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

2 Responses to “ Kritik dan Benci ”

  1. Good infomations. friv

  2. terimakasih

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara