pil pahit yg harus kita telan bersama


Semenjak saya mengenal Rendra disekitar tahun 1989 , pergaulan saya dengan almarhum tidak hanya sebatas diruang kegiatan musik semata. Saya menyerap landasan cara perpikir seorang Rendra dalam menemukan esensi apa yang selama ini dia lakukan lewat sajak2 protesnya.

Pergaulan musikal hanyalah tempat untuk saya mengekspresikan diri melalui bahasa berkesenian/musik. Namun pergaulan intelektual adalah sesuatu yang lebih penting , agar dapat melahirkan gagasan2 artistik yang akan dimunculkan kemudian sebagai wujud manifestasi dari ekspresi seni itu sendiri.

Di era masa2 transisi politik dalam pemerintahan Habibie menuju Gus Dur dan Megawati , saya terlibat lebih intens untuk mencoba mengikuti berbagai ‘pergerakan2’ yang dilakukan Rendra dan kawan2. Diantara mereka tercatat nama2 seperti : Eep Saifulloh Fatah , Faisal Basri , Teten Masduki , Sutanto Supiady , Bambang Warih dan nama2 lainnya lagi.

Perkumpulan itu bernama: Lingkaran Persaudaraan Pemberdayaan Warga Negara. Semangat yang terkandung didalam pergerakan tersebut adalah membangunkan serta memberdayakan hak-hak setiap orang / warga bangsa , yang mempunyai derajat keberpihakan yang sama dihadapan Hukum yang juga sama.

Lalu beberapa tahun setelah itu saya memberanikan diri untuk membidani : Gerakan Kepatutan yang lahir dari pikiran2 dan gagasan saya sendiri dalam menyikapi kondisi sosiokultural masyarakat disaat itu yang dibenturkan dengan berbagai realitas tatanan sosial sehingga mengabaikan Etika , Sopan dan Santun bahkan Moral yang kita kenal sebagai Sistem nilai / Value.

DiTahun 2005’an , Rendra bersama kawan2 mulai sering membicarakan masalah Karakter sebagai identitas dari satu Bangsa , yang saat itu tampak semakin menjauh dari wajah aslinya. Adalah INDONESIA sebagai sebuah Negara MARITIM yang menjadi inti topic rujukannya.

Waktu demi waktu berjalan seiiring dengan bergulirnya berbagai diskusi / pertemuan2 / wacana2 melibatkan berbagai komponen Bangsa yang peduli pada Ke-Bhinekaan , untuk lebih focus memahami peradaban kelautan yang menjadi Keniscayaan bagi keberadaan sub-Bangsa2 yang bermukim di Nusantara.

Oleh karena itu pulalah pada masa-masa selanjutnya , saya dan Rendra mencoba merangkai berbagai issu dan fakta2 yang ditemukan dilapangan agar bisa menjadi sebuah produk dari karya seni yang secara substansial mengusung esensinya. Tercetuslah dari dalam benaknya : KANTATA SAMODRA.

Rendara wafat … kini saya sendiri lagi ,

Hari2 tanpa Rendra , saya harus mulai dari awal untuk membenahi segala sesuatunya , dimulai dari lingkungan saya sendiri sebagai seniman ataupun sebagai makhluk sosial dan Warga Negara yang harus taat pada Hukum , sebagaimana kita semua menyepakati bahwa HUKUM adalah Panglima Tertinggi.

Salam

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara