Practice What You Preach

Practice What You Preach:

Pagelaran Kantata Barock Yang Oksimoron

Penonton Pergelaran Kantata Takwa 2003 di Parkir Timur Senayan dan Kantata Barock 2011 di Gelora Bung Karno

Oksimoron menurut kamus adalah a figure of speech that combines contradictory terms, seperti “a cheerful pessimist” atau “a deafening silence”. Dalam hal ini, judul dari berita Kompas.com “Kantata Barock dan Celoteh Pemimpin Narsis dan Tamak” adalah penggambaran yang tepat.

Kantata Barock adalah penerus dari Kantata Takwa. Meski sering disebut sebagai grup musik, Kantata berbeda. Dia bukan sekedar kumpulan musisi, dia dibangun melalui diskusi intensif, komunikasi dengan berbagai pihak, doalog dan anjangsana ke berbagai tokoh prodemokrasi pada zaman Orba masih kuat, yang kemudian mewujud sebagia muara sensitivitas sosial ekonomi dan politik yang dibungkus dalam idiom musik, puisi dan teater. Visi yang jelas mengenai masa depan Indonesia yang demokratis, menghargai HAM, menghormati keragaman suku dan agama, menyuarakan suara mereka yang terpinggirkan, dan pada saat-saat akhir alm Rendra, membayangkan masa depan Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat.

Sebagai suatu forum diskusi, Kantata menjadi muara dari pencapaian masing-masing personalnya. Karya grup Swami, karya personal Iwan Fals, puisi Rendra, estetika folk-rock berwarna etnis Sawung Jabo dan kenakalannya sangat terasa, serta rajutan musik yang rapi dari Yockie beserta dukungan dana berlimpah dari Setiawan Jody, semua digunakan untuk mengkomunikasikan visi Kantata.

Pertunjukan Kantata Barock kemarin, 30 Desember 2011, menjadi pertunjukan oksimoron yang menarik. Saya ambil kutipan dari Kompas.com “Di lagu “Megalomania” misalnya, Kantata Barock melukiskan tokoh-tokoh yang mampu berbuat apa saja pada dunia. Tak cuma pemimpin “narsis” yang doyan tampil dan perintah sana-sini, tetapi juga rakus berada di kursi pemimpin. Tak heran, latar pun berubah dengan tampilnya wajah pemimpin dari era perang dunia kedua seperti pemimpin Nazi, Adolf Hitler, dan pemimpin Italia, Benito Musolini, hingga yang terkini, Barack Obama.

Tapi sayangnya, semua teman saya yang hadir bersama saya, di twitter, facebook, milis, dsb, semua menyayangkan tiga hal: pertama, soal tidak adanya visi yang melandasi konsep pertunjukan. Kedua, komunikasi yang tidak lancar diantara penggagas Kantata sendiri, antara Setiawan Jody dengan Yockie Suryoprayogo, dan sampai tahap tertentu Jabo dan Iwan, serta kepada keluarga alm Rendra. Ketiga, eksekusi manajemen pertunjukan yang kurang dan ketiadaan music director yang merajut semua elemen Kantata.

Pertama, soal visi. Bicara soal demokrasi dan bongkar segala kemunafikan di zaman pasca Orba sekarang memang kudu dirumuskan ulang. Kantata ketika didirikan memang sebuah gerakan kebudayaan yang bervisi bongkar Orba. Setelah Orba jatuh, tetapi sifat-sifat Orba tetap merajalela, meski media dan LSM bebas bersuara dan bahkan koruptor di Senayan pun berteriak antikorupsi, bagaimana? Ya memang ada pergelaran Kantata Takwa Kesaksian 2003 di Parkir Timur Senayan yang sempat saya tonton, tetapi sekarang, 13 tahun setelah 1998, apa visinya?

Baik mas Yockie maupun Iwan Fals menyatakan bahwa alm Renda bervisi agar Kantata dilanjutkan dengan Kantata Samodra. Iwan menciptakan lagu “Ombak” dalam kerangka Samodra, yang dinyanyikan dengan syahdu, hanya dengan gitar akustik, dan saya kira puncak dari pergelaran kemarin yang hingar bingar. Pidato penerimaan Dr HC Rendra di UGM pun dengan tegas menyatakan: …”Negara kita adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki laut. Namun toh ketatanegaraan kita tetap saja ketatanegaraan negara daratan. Inikah mental petani?….”

Karena itu visi dan cara melakukan gerilya budaya dan bersaksi mengenai kondisi saat ini kudu dibincangkan kembali. Mungkin tetap saja membuat pergelaran musik dengan suara keras memisuhi koruptor, tetapi jika ini dilakukan dalam kerangka Kantata sebagai forum diskusi kebudayaan sosial politik dan ekonomi, maka hasilnya tentu berbeda dengan keputusan yang diambil sendirian untuk membuat pertunjukan musik besar di Gelora Bung Karno.

Kedua, soal komunikasi antar penggagas Kantata, termasuk ke keluarga alm Rendra. Tampak disini dengan adanya ketiadaan dialog mengenai visi, maka komunikasi pun terlupakan. Komunikasi ada terbatas pada: kapan mulai latihan, bagaimana setlist, siapa saja musisi yang terlibat. Konferensi pers keluarga alm Rendra dan Yockie mengenai potensi tuntutan hukum terhadap PT Airo, penyelenggara pertunjukan Kantata Barock, menunjukkan kemarahan sudah tidak bisa dibendung. Andai saja dari awal keputusan didahului dengan dialog yang partisipatif dan demokratis. Visi yang disuarakan Kantata sejak Kantata Takwa, demokrasi dan hukum, kurang dihormati disini. Seorang pengkhotbah yang baik adalah yang mempraktekkan apa yang dia khotbahkan. Practice what you preach. Tak heran banyak pendakwah di televisi jadi sininsme banyak orang, berkhotbah sesuatu yang mereka langgar sendiri. Berkhotbah yang mereka tahu tak akan dilakukan sendiri.

Ketiga, dalam tingkat manajemen pertunjukan, tidak terlihat juga practice what you preach, yang ada, seperti kutipan Kompas.com di atas: com “Di lagu “Megalomania” misalnya, Kantata Barock melukiskan tokoh-tokoh yang mampu berbuat apa saja pada dunia. Tak cuma pemimpin “narsis” yang doyan tampil dan perintah sana-sini, tetapi juga rakus berada di kursi pemimpin…”

Pagelaran kali ini kurang jelas siapa music directornya. Berbeda dengan pagelaran Kantata Takwa yang saya lihat di youtube, dimana berbagai prentilan musik perkusif dan etnis khas Jabo yang dirajut oleh musik yang rapi oleh Yockie masih terdengar dengan nyaman, kemarin sound 400.000 watt sangat menggelegar, terlalu ramai, menghilangkan prentilan ala Jabo yang sebenarnya tampil bersama 5 anak buahnya. Semua tampak berebut untuk tampil ke posisi kedua, karena posisi pertama sudah reserved untuk Sang Bohir, dengan sound gitarnya yang sumpek ditelinga penonton. Semua yang saya tanya mengeluhkan sound yang timbul tenggelam, kasar dan didominasi oleh gaya gitar shredding ala Steva Vai dengan 7 senarnya, yang menggelitik-sori- memekakkan gendang telinga, menimbulkan “a deafening silence”, saya jadi termangu dalam kesunyian karena musik yang memekakkan telinga. Oksimoron.

Orasi dan aksi teatrikal tampak kurang masuk ke penonton. Satu-satunya lagu yang menjadi puncak, adalah “Ombak” dari Iwan Fals, suatu keheningan dalam hingar bingar. Oksimoron.

Practice what you preach. Sudah saatnya para personal Kantata untuk mempraktekkan apa yang mereka khotbahkan. Kembalilah berkomunikasi dengan semua elemen, terutama para pendiri dan keluarga pendiri. Berdialoglah. Berdemokrasilah. Teten Masduki di twitternya menulis “Kantata rujuk”. Sudah saatnya tokoh seperti Eef Saefulloh Fatah dan Teten Masduki yang dekat dengan mereka semua untuk merujukkan mereka. Tahun 2012 sampai 2014 terlalu penting tanpa kehadiran Kantata dengan spirit aslinya.

ditulis oleh:

Agam Fatchurrochman

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara