amtenar dan inlander

profesi dalam dunia musik di Indonesia masih sering diperlakukan layaknya para amtenar yang mengabdi pada kolonialisme penjajahan dalam memperlakukan kaum inlander / jongos.

Orang yang bekerja mencari nafkah dibidang apa saja sudah barang tentu hak-hak ekonominya dilindungi oleh undang-Undang a/n Hukum , dimana setiap Warga Negara wajib untuk berkesempatan sama meningkatkan taraf kualitas kesejahteraan hidupnya masing2. Tidak ada satu profesi apapun yang terlibat dalam peradaban modern dijaman merdeka ini untuk bekerja tanpa mekanisme imbal balik benefit yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak

Kaum pekerja diwilayah swasta ataupun pegawai negeri mengenalnya dengan sebutan gaji , dalam bahasa asing: salary. Lalu dimanakah posisi kaum pekerja seni atau seniman yang tidak ber-gaji atau ber-salary tersebut.

Menjadi aneh bin ajaib ketika upaya-upaya untuk memperjuangkan hak ekonomi agar semakin banyak orang yang melek/membuka mata dan tidak sembarangan lagi memperlakukan hak profesi bagi seniman … koq justru malah dianggap remeh dan sebelah mata.

” …ah dia itu kan cuman mau nuntut royalti” ; konon begitulah para Amtenar tersebut berkata , ini bukan soal besar atau kecil jumlah nominal yang sedang dibicarakan , namun akal sehat yang tak dimiliki ketika mereka berpikir untuk berbicara. Begitu pulalah kalimat2 yang antara lain ditujukan bagi seniman2 musik seperti saya yg sudah lebih dari 42 tahun mengabdikan diri pada dunia musik.

DIGEST / renungkanlah … bagaimana mungkin masih bisa terucap hal2 seperti itu

salamPERUBAHAN,

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara