bicara karakter … duh

Sebetulnya risih untuk ngomongin segala sesuatu yang pada ujung2nya mudah tergelincir dan dipersepsikan menjadi ke‘AKU’an yg terkesan menjadi sifat yang pongah. Tetapi perkembangan situasi yg terjadi seperti sekarang ini membuat peribahasa: ‘diam adalah emas’ atau silence is golden , seolah memang tidak ada manfaatnya apa2. Ibarat perilaku keliru yang kalau didiamkan malah semakin men-jadi2.

Saya menjumpai satu gambar diagram / struktur tentang pembentukan karakter manusia Indonesia melalui browsing yang temukan di internet. Lalu apa kaitannya dengan kegiatan profesi saya sebagai seniman musik? … BANYAK!

Sekali lagi , tanpa bermaksud ‘pongah’ untuk menampilkan ke’AKU’an yg termaksud diatas , namun saya merasa ini adalah sesuatu yg memang harus saya katakan. Mudah2an terhindar dari ‘misleading’ persepsi yang justru malah semakin memperuncing perbedaan2 pendapat.

Musik dan dunia berkesenian adalah salah satu pilar yang menyangga payung besar yang berfungsi menaungi proses dialektika sosial bagi terbentuknya karakter budaya dari satu masyarakat/bangsa. Musik bukan hanya sekedar sarana hobi tempat orang bernyanyi sebagai obat pelipur lara apalagi sebatas dipersoalan asmara.

Semenjak medio tahun 1970’an , saya tidak menjumpai ‘lembaga2 sipil’ yang berfungsi sebagai alat kontrol yg dibutuhkan bagi kerja mesin budaya tersebut. Alat kontrol tersebut adalah fungsi kritik yang disuarakan dari corong2 kritikus yang kompeten dan independen. Semua orang seolah sekedar ‘mengalir seperti air’ mengikuti alur yang diciptakan sesuai kehendak dan kepentingan industri pragmatis saja.

Masyarakat menjadi ‘buta’ referensi tentang mengapa segala sesuatu yang ada bisa terjadi. Publik penggemar/penikmat musik yang berpikir pendek , tidak mampu mengapresiasi proses2 rumit serta detail yang dikerjakan oleh produsen dan para kreator seni. Dengan kata lain masyarakat yang tidak ‘mudheng’ untuk menghargai jerih payah diantara sesamanya , kecuali jika hal itu sudah menjadi berita besar tentang cerita kesuksesan2 instan yang dicapai.

Ruang2 kreativitas yang kelak dikemudian hari diharapkan mampu untuk terus melahirkan embrio2 bagi penguatan karakter budaya musik pop , atau jenis rock lokal , menjadi tidak penting untuk dibicarakan apalagi untuk diapresiasi.

Sudah bukan sesuatu yang ‘aneh’ jika kerapkali saya menjumpai pertanyaan2 dari generasi saat ini “sudah berapa lama mas yockie main music” atau bahkan “lagu apa saja yang pernah mas ciptakan” , “bagaimana rasanya diajak main dalam komposisi orkestra oleh anak muda” , dan terakhir yg terjadi beberapa hari lalu “maaf ya ini band apa sih? dan siapa sih yang main ini , maaf kita nggak kenal , kita kan generasi baru dst ..dst … duh!

Sungguh deh , saya risih dan khawatir tergelincir menjadi ‘pongah’. Tapi ‘silence is golden’ emang sudah usang!

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara