apa itu proporsional

saat tubuh berubah menjadi jasad hampa yang kosong ditinggal pergi nyawa , hanya ada satu yang masih terbawa : agar dimaafkan segala perbuatan selama hidup dan berharap terkirim doa untuk meringankan beban perjalanan abadi yg ada disana.

selagi kita masih ada didunia , berkesadaran untuk menepis segala debu kotoran yang melekat adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan. Usia panjang yang diijinkan bukan selalu berarti diberikan kenikmatan yg juga panjang … namun juga masih diberikan waktu untuk memperbaiki & mengurangi kesalahan atau bahkan dipersilahkan untuk menambah catatan tentang deretan panjang dosa kekeliruan.

Berpikir dan bertindaklah secara proporsional

- O -

[dialog chat on fb:]

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Boleh nambah pahala juga dong mumpung dikasih usia. Karena salah dan khilaf kadang tanpa kita sadari. Negative thinking aja sudah keliru. Hehe…

Yockie Suryo Prayogo: manusia paling lancar dan gampang kalau disuruh ngomong soal pahala.

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Gimana dengan omongan dosa? :)

Yockie Suryo Prayogo: ‎”omongan dosa?” … itu urusan orang lain katanya , bukan urusan kita

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Kalo gitu kita ngomongin yang lancar, gampang dan yang urusan kita saja. Lebih aman dan proporsional. Hehe.

Yockie Suryo Prayogo:
kalimat proporsional (diatas) berbeda perspektif dengan yang dibicarakan (dibawah) . Sampeyan ini sengaja ngaduk2 pikiran pembaca dengan jurus silat ‘retorika’ … hehe , semprul

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Lha, mboten ngoten maksud kulo, pakde. Proporsional bawah memang bukan dalam konteks proporsional atas. Kebetulan wae sama2 proporsional. Sama sekali tak bermaksud bersilat lidah. Tak pandai lah saya ni.
Mohon petunjuk

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Lupa… Hehe…

Yockie Suryo Prayogo: ‎*harmoko mode on* : sesuai petunjuk bapak presiden maka:

pp no 21 (diatas) itu bermaksud bahwa , kita ini bukan jenis malaikat atau juga nabi. Sedangkan nabi saja masih memohon ampun atas dosa kekeliruannya , apalagi manusia yang relatif sarat dengan kekhilafan. Orang2 memuja tokoh2 yang diidolakannya se-olah2 hendak menafikkan realitas proses2 yg membentuk eksistensi mereka dalam hidupnya masing2. Chrisye , saya dan Fariz RM difoto itu , adalah makhluk sosial yg namanya manusia. Makhluk sosial itu selalu berketergantungan antara satu dengan yg lainnya.

Ketika ada salah satu dari makhluk sosial tersebut yg mencoba ‘ingkar’ , baik sengaja maupun tidak sengaja … maka itu namanya menyalahi kodrat. Menyalahi kodrat itu konon disebut ‘dosa’ , itu juga kata agama bukan kata saya. PP 21 (diatas) hanya berharap :… janganlah kita sebagai makhluk sosial yang masih hidup sekarang ini … melakukan hal2 seperti itu , apalagi semata karena kebutuhan materi , popularitas , hingga sampai pada kesenangan pribadi2 yang memotivasi lahirnya perilaku ‘fanatisme’

Yockie Suryo Prayogo: tapi perilaku pedagang kelontong indonesia nggak peduli dengan semua itu … “ngomong apa sih mereka itu , nggak ada duitnya mana bisa untung”.

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Nah, akhirnya muncul juga komen detil terkait gambar. Baru ngeh (itupun dikit2) setelah mendengar penjelasan pemerintah perihal PP tsb. melalui keterangan pers oleh Menpen tadi.

Lalu, di akhir kalimat ada kata ‘fantisme’ (mungkin maksudnya ‘fanatisme’). Jika itu yg dimaksud bagaimana seyogyanya sikap seorang fans terhadap yg di-fans-i. Supaya ndak menyalahi PP.
Kan fans biasanya njerit2 kalo liat sang idola. Hehe.
Beda dengan saya, kalo ketemu salah satu idola saya Mr. JSoP, kalo orang-orang minta foto dan tanda tangan, saya malah njaluk duit sangu (yen ono) sama rokok. Lebih berkesan rasanya ketimbang foto dan tanda tangan.
Semprul? Yo ben…. Hahaha.

Yockie Suryo Prayogo: nah mari kta bicara soal fans dan fungsi2 sosialnya. Jika saya menjadi penggemar dari salah satu orang yg saya idolakan , maka sudah barang tentu karena saya mengagumi apa yg dia lakukan (bidang2 tertentu). Saya mengagumi karena idola saya tersebut memberikan ‘pencerahan’ atau bahkan ilmu2 kehidupan yg selama ini tidak saya dapatkan. (dia saya anggap bermanfaat bagi saya) . Itu pemahaman tentang FANS dalam konteks kebutuhan pribadi bagi masing2 orang.

Dalam konteks industri , FANS dibutuhkan sebagai kelengkapan bagi tercapainya demand pasar. Perilaku industri akan selalu mendorong terciptanya fans2 yang bisa digerakkan / diatur , agar sesuai dengan tujuan2 dan kepentingan mereka (yaitu agar jualannya lancar)

Dalam konteks politis , FANS menjadi penting karena berkumpulnya banyak orang yang menyembah satu ‘ideologi’ yang sama. Fans club dan sejenisnya adalah ‘barang penting’ bagi dunia politik , semata karena jumlah banyaknya ‘suara’ yang bisa dimanfaatkan.

Baik … setelah menengok berbagai jenis keterangan tentang fans / fans club dan fungsinya masing2 diatas , maka akan timbul pertanyaan yg harus dijawab:

[dalam konteks I / pertama] : apa yang seharusnya dilakukan jika ada salah satu dari idola yg kita kagumi , melakukan tindak perilaku perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang kita tau dan harapkan. Apakah kita akan berdiam diri saja? karena sudah terlanjur me-muja2 dia? ataukah berani dengan lantang mengkritisi sang idola tersebut agar memperbaiki perilakunya . Sebab dia adalah pujaan kita.

Yockie Suryo Prayogo: ‎[dalam konteks II dan III:] … nggak usah diomongin lah … semua orang juga pasti paham akan maksudnya

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Jika itu pertanyaannya, maka ya itu td jwbnnya. Proporsional saja. Kita kan mengagumi karya-karyanya, keluasan ilmunya, kearifannya. Nah, jika ada tindakan dan perilakunya yg tidak sesuai dengan harapan kita itu adalah sosok dia sebagai manusia, makhluk sosial biasa. Tokh dia bukan malaikat, dewa, ato nabi. Beda urusan. Kecewa? ya pastilah. Manusiawi. Tapi bukan dengan membakar, memusnahkan karya-karyanya. Beda domain. kalo ada kesempatan mengkritisi, why not. Malah sebuah kebanggan.
Yang pasti (saya khususnya) bukan seorang pencinta buta. Susah kalo gitu, pakde. Sok nerak2, ora peduli rambu2. :)

Yockie Suryo Prayogo: hal2 semacam itulah yang harus terus disosialisasikan sepanjang waktu. Sebab pada umumnya hanya orang2 yang sudah mampu berpikir secara lebih dewasa yg bisa mengarah kesana. Sedangkan golongan2 remaja yang notabene sedang berproses membentuk identitas akan cenderung membabi buta (manusiawi juga) . Namun ketika perilaku2 yang manusiawi diatas menjadi berskala mayoritas , dan mendominasi kehidupan , maka dia sudah mengganggu kepentingan2 (umum) bagi tercapainya masyarakat madani dst dst …

Itulah yang terjadi saat ini …. eksploitasi remaja ‘nanggung’ demi kepentingan2 borjuasi industri terjadi di-mana2. Bahkan nyaris tidak ada lagi tersedia tempat yg memadai bagi orang2 dewasa , untuk hadir di ranah2 publik

Yockie Suryo Prayogo: ‎[kembali ke laptop:] … dan konser2 seperti kidung abadi dan sejenisnya , adalah contoh yang konkrit untuk itu semua. Mereka hanya tau bagaimana harus memuja idola yang dianggap setara wali atau bahkan nabi

Seöga Ynadröj Otnäwsys: Dalam hal semua komponen ikut bertanggungjawab. Lugas saja, saya ingin mengkritisi budaya K-Pop yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia. Gak bagus? Nyatanya anak-anak kita jejeritan kalo liat boysband n girlsband (seharusnya bukan boys/girlsband, tp dancerband. Toh mereka gak mainin instrumen?). Salahkah mereka. Gak 100%. Mereka lahir dan hidup di jaman yang hanya mampu menyuguhkan itu. Ibarat mie instant yg tersedia di meja makan, maka mereka akan mengabaikan tempe bacem, sayur lodeh, sambel kacang, iwak peyek, sama ikan teri asin.

Yockie Suryo Prayogo: itulah … , yang jejeritan itukan abg nanggung kan? bukan golongan orang2 dewasanya . Tetapi abg nanggung yang sedang jejeritan itu ditampilkan di-mana2 hingga se-olah2 merepresentasikan seluruh (watak karakter) orang indonesia. Inilah ‘hebatnya’ penetrasi industri yang bermakna bagi saya kurang ajarnya mereka dalam mengangkangi etika di-ruang2 publik

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara