A menuju sampai Z

Pembelajaran Publik : babak I

Sekitar bulan Juni/Juli pada tahun 2011 (yang lalu) telah terjadi tindak pelanggaran hak cipta dengan mengedarkan Karya2 Original musik dan lagu Badai Pasti Berlalu secara utuh (dari format kaset/magnetic tape) kedalam format CD tanpa ijin yang dilakukan oleh sdr. Didi Bofa. Saya atas nama para pencipta yg lain , yakni: Erros Djarot dan Debby Nasution segera menanggapi dengan melakukan upaya2 yang bisa ditempuh.

Telah diilayangkan pula kepada saya sepucuk surat pernyataan PERMOHONAN MAAF yg ditanda-tangani oleh sdr. Didi Bofa diatas sebagai salah satu penggagas beredarnya CD musik dan lagu2 BPB tersebut. Selanjutnya pihak2 lain yang turut terlibat dalam proses2 pembiayaan produksi hingga penggadaan/perbanyakan dari karya2 bajakan tersebut menyatakan , bahwa sdr. Didi Bofa sendirilah yang bertanggung jawab atas semuanya itu. Kasus ini sampai detik ini belum selesai dan saya masih menunggu langkah2 yang sedang dilakukan oleh orang2 yang saya beri ijin/kuasa untuk melakukan semacam upaya mediasi sebagaimana semustinya.

Pada bulan Juli 2011 itulah , saya bertemu dengan istri almarhum Chrisye yang bertindak sebagai ahli waris Chrisye , dimana kemudian melahirkan satu ide/gagasan dari benak saya sendiri untuk membuat sebuah konser musik. Konsep yang saya tawarkan kepada istri almarhum tersebut adalah sebuah konser bertajuk : “Yockie & Chrisye”. Dimana saya akan memainkan repertoar2 lagu yang pernah saya rekam saat saya masih bekerjasama dengan almarhum diberbagai produk kaset. Karya lagu2 tersebut akan saya mainkan PERSIS seperti produk aslinya tanpa merubah ‘nuansamatic’ yang menjadikan karya2 tersebut menjadi karya2 yang telah diapresiasi oleh banyak orang. Dan suara (voice) Chrisye akan saya ambil dari multitrack hasil rekaman yg ada di-masa2 lalu , dst

Hari demi hari dan minggu2 hingga hitungan bulan selanjutnya adalah terjadinya proses2 pematang konsep melalui berbagai pertemuan2 / meeting yang pada intinya menjajaki segala kebutuhan2 yang harus dibahas dan dipersiapkan. Proses meeting atau pertemuan ‘marathon’ tersebut menjadi terhenti sejenak akibat masuknya bulan Desember , dimana kita semua sama2 mengetahui banyak hari2 dengan event2 khusus yang tak bisa dihindari , khususnya setiap menjelang pergantian tahun. Sekitar bulan maret 2012 barulah saya menerima sebuah panggilan telpon yang menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan gagasan yg telah direncanakan dari sejak tahun lalu tersebut.Telpon itu datangnya dari seorang kerabat cukup dekat yang menjadi bagian dari kepanityaan / management yg sedang dirancang , yang juga musisi , yang juga kebetulan adalah kakak kandung dari istri almarhum Chrisye sendiri

“Yok …aje gile’ , gw di skip Yok …jangan2 elu pasti di skip juga…dst,dst”. Sekonyong kalimat tersebut langsung meluncur tanpa tedeng aling2. Saya tanyakan apa maksud dari di ‘skip’ tersebut. Lalu yang bersangkutan menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak pernah diberitahu tentang proses2 perkembangan berikutnya semenjak meeting terakhir bersama (tahun 2011). Lalu tiba2 ybs menerima kabar bahwa KONSEP tersebut sudah dipindah tangankan kepada Erwin Gutawa dan Jay Subiyakto serta didukung secara finance oleh media yang bernama Kompas Gramedia / majalah.

Saya langsung mengatakan pada rekan saya diatas … “ya biarlah kalau gitu , sebab ini soal etika dan moral. Dijaman seperti sekarang ini sulit untuk tersinggung atau bahkan ‘marah’ . Etika dan Moral udah nggak ‘dianggep’ dan itu terjadi di-mana2 saja.

Langkah saya berikutnya adalah melakukan semacam upaya klarifikasi secara baik2 , yang dilakukan oleh istri saya selaku (manager purba :p) untuk menghubungi pihak2 yang semustinya ditanyakan , yakni istri almarhum itu sendiri. Jawaban yang diperoleh: “iya … benar sih , soalnya sponsor yang minta agar pakai Erwin Gutawa saja , selain karena mungkin lebih menjual dan Erwin Gutawa sudah ber-kali2 mengadakan konser bersama Chrisye dsb.” Seperti yang sudah saya sampaikan diatas , bahwa bagi saya “tidak masalah” mau pakai siapa saja , mau Addie MS atau bahkan sampai Quincy Jones sekalipun bagi saya tidak masalah apa2. Tetapi saya hanya mengisyaratkan satu aturan HUKUM yang bersifat legal dan formal yang tidak boleh dicederai. Apakah itu … tidak lain adalah pertanyaan tentang “apakah lagu2 saya juga akan tetap digunakan?” .

Maka jawabannya adalah: ” … nanti saya tanyakan kepada Erwin Gutawa yang berkompeten dalam menyusun rundown acara.” Selama hampir 2 (dua) bulan semenjak komunikasi terakhir pihak saya dengan pihak mereka , saya tidak pernah ambil pusing lagi dengan berbagai berita tentang segala rencana yg terkait dengan konser diatas. Hingga 3 (tiga) hari menjelang hari H , ada seorang pengamat musik bernama Denni Sakri menelpon saya untuk urusan soal lain , namun kebetulan saat itu dia baru saja menonton sebuah acara Gladi Resik yang membawakan lagu2 saya.

Saya langsung terhenyak kaget dan memastikan omongan ceplas ceplos yg tanpa maksud apa2 tersebut … apakah betul lagu saya digunakan , lalu lagu apa saja ya?

Mulai tertanggal 4 mei saya sebarkan pesan dan berita lewat berbagai medium apa saja yang bisa terbaca oleh umum secara terbuka. Bahwa saya memohon dengan sangat agar lagu2 ciptaan saya di DROP . Tidak pernah digubris …

Kasus ini adalah bagian penggalan dari cerita2 lama yang sudah puluhan tahun mendekam dibenak saya , bukan ujug2 atau tiba2. Bila ada pihak2 yang tidak tau persoalan … lalu mau ikutan bicara “ah ini soal duit yg nggak kebagian …dlsb” . Betapa kasihan dan menyedihkannya orang2 yang berpikir seperti itu . Saya sudah kehabisan waktu untuk melayani celotehan burung seperti itu.

Saya harus segera mandi dan berangkat ke GKJ , check sound dan nanti malam konser sama orang2 yang lebih muda , cerdas dan yang lebih tau etika serta sadar apa itu arti tanggung jawab , salam

jsop

menyusul : babak II

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara