KEBENARAN

Masih soal KEBENARAN , sudah berulang saya menulis ttg apa itu Kebenaran , namun masih sering jadi pertanyaan ngalor ngidul hingga debatable yg pada umumnya terjadi diantara anak2 muda generasi sekarang ini. Kebenaran bukanlah sesuatu yang samar-samar dan artifisial , Kebenaran itu bersifat ‘pasti’ , nyata dan menjadi satu keniscayaan . [> tangible = Hukum] Ketika Kebenaran ada ‘disini’ maka dia tidak ada ‘disana’ , Kebenaran adalah keberpihakan [Moh.Hatta]

Kebenaran selalu beranjak dari hal-hal yang paling mendasar , yaitu berawal dari dialektika dalam kehidupan setiap makhluk dengan alam yang ada disekeliling lingkungan hidupnya sendiri2. Misalnya , saya yang notabene orang Indonesia punya Kebenaran untuk harus mengkonsumsi nasi atau makanan lain sejenis yang tanamannya memang tumbuhnya di Indonesia. Saya tidak punya Kebenaran untuk memaksakan diri harus makan gandum disetiap harinya.

Kebenaran untuk mengkonsumsi jenis makanan tersebut menjadi Kebenaran bersama antara saya dengan masyarakat lain yang ada disekeliling saya (karena mengkonsumsi jenis kebutuhan hidup yang serupa).

Kebutuhan diatas menjadi landasan bagi Kebenaran cara2 untuk bersepakat , yang harus ditempuh bersama , yang kemudian melebar , meluas dan merambah memasuki aspek2 lain dalam urusan membentuk aturan demi menjaga tatanan kehidupan dalam urusan bermasyarakat hingga ber-Bangsa (sospolekhukum)

Kebenaran dari perspektif politik yang kemudian dirumuskan menjadi satu ideologi bersama dalam ber-Negara , adalah Kebenaran yang mutlak & tidak untuk diperdebatkan lagi , terkecuali jika kesepakatan untuk hidup bersama tersebut memang sudah berakhir (pecah kongsi) , maka setiap orang akan memilih untuk memiliki Kebenaran2 yang barunya lagi.

Singkat kata , saya punya KEBENARAN untuk selalu bicara dengan menjunjung satu KEBENARAN yang saya yakini diatas. Itulah yang menjadi tolak ukur Hitam dan Putih dalam hidup saya. Namun apabila hitam dan putih kita tidak sama , maka tidak ada gunanya saya melakukan dialektika musyawarah bersama (disebut:kompromi) dengan orang2 dijaman ini yang sudah bergeser pemahamannya dari apa yang saya tau sebelumnya.

Kebenaran bukan untuk diperdebatkan jika kesepakatan untuk hidup bersama memang harus dipertahankan. Kebenaran akan selalu eksis ketika kesadaran saling membutuhkan bisa dijaga.

[:Karena itulah maka industri jenis apa saja yang merugikan kepentingan ekonomi bersama (warga indonesia) , wajib ditolak bahkan dianggap sebagai ancaman. Tidak ada pembenaran modernisasi serta demokrasi yang bisa digunakan … *kebebasan berekspresi? gundulmu peyang*:]

Kasus dalam industri hiburan yang saat ini menjadi kontroversial karena substansi persoalannya sudah dibuat ‘lari’ kesana kemari. Itu adalah cara2 politik dalam ber-ekonomi untuk menyiasati pembenaran2 yg sebenarnya bertentangan dengan kehendak Hukum itu sendiri. Segala urusan tentang moral lah yang diributkan . Mereka tau , bahwa masalah moral akan digilas/dikalahkan oleh issue2 lain yg terkait dengan kebebasan memperoleh informasi dsb.

Ini permainan kotor segelintir orang untuk memperoleh keuntungan2 ekonomi tanpa peduli kepada dampak yg akan merugikan hak2 ekonomi bagi warga-negara yang lainnya . Jika mereka memang bersikeras bahwa tidak bermaksud demikian , maka buktikan dengan menyelenggarakan kegiatan2 tersebut secara adil dan fair , yakni harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat , bila perlu gratis sebagai wacana pencerahan sebagaimana yg sering dilakukan oleh produsen2 lokal dinegeri ini. Barulah moral bisa dibahas menyusul belakangan setelah semua orang punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi2 sbg tawaran2 menuju alam yang katanya modernisasi tersebut.

Harus disudahi menjadi bangsa yang bodoh dan dungu , yang akan terus dipermainkan oleh muslihat dibalik borjuasi feodal kekuasaan2 korporasi

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara