celoteh #fesbuk saya

satu hal yang sering tidak dilakukan oleh pemerintahan negara ini yaitu mempersiapkan sarana aturan dan hukum agar pemahaman tentang pasar yang terbuka tidak mencederai semangat konstitusi.

Seolah mengadu kualitas antara produk import dan lokal , sambil menutup mata pada realitas bahwa produk lokal itu harus dibangun terlebih dahulu kualitasnya atau bahkan malah dibiarkan mati secara perlahan. Pemerintah terkesan ‘sembunyi tangan’ bahwa “ini semua karena pilihan konsumen , mereka sendirilah yang menentukan”

Kalau begitu caranya sayapun juga bisa jadi pemimpin sampai pemimpin yang paling tinggi sekalipun untuk mengelola ‘toko’ agar tidak kekurangan stock barang.

– ini issue lama bukan issue yang dianggap ‘fresh’ yg biasanya getol untuk baru diributin. Tapi biarin saja … saya konsisten dengan yg lama2 selama itu belum beres2 juga :(

+ globalisasi jika tidak dicermati dan disikapi secara serius tidak ada bedanya sebagai bentuk kapitalisme termodern..

– pada akhirnya globalisasi tidak lebih hanya bermakna membuka ruang bagi para petualang2 untuk berspekulasi sendiri2

+ ujung2nya kembali ke teori darwin ya mas..yang kuat yang bertahan hidup

– karena itulah masyarakat harus melek… kalau masalah ini dibawa keranah ‘falsafah’ … pantas saja dan nggak perlu ter-heran2 kalau muncul FPI dan yang lain2nya. Supaya masyarakat teuteup ‘merem’ dengan mimpi2 indahnya , maka kita politisasi saja itu FPI sebagai gerakan radikal yang anti demokrasi dan segudang julukan yg bikin bulu kuduk merinding

+ minimnya proteksi dan keberpihakan pemerintah secara “nyata” dalam segi apapun membuat sekelompok masyarakat menjadi gemas dan bergerak

– profesi saya sendiripun kalau bukan soal berkesenian , sudah dari dulu saya bikin semacam ‘FPI’ . Karena saya juga selalu dihadapkan pada tembok buntu tidak ada pilihan , lalu hak profesi saya sebagai warga itu apa , tanggung jawab negara itu dimana? … buntut2nya saya ini warga negara dari Negara yang namanya apa? Indonesia / atau masih Belanda . Kalau Belanda berarti saya harus beli tiket ke amsterdam ngurus semua permasalahan dalam dunia profesi saya

+ Patut kita renungkan

– apalagi melihat fakta sosial yg terjadi ditengah masyarakat , bagaimana mereka memandang dunia profesi berkesenian ini . Miris bikin hati pedih … mereka masih sebatas memuja ikon2 hiburan sebagai pelengkap euforia mimpi2. Sebutan artis , legenda , bintang , idola yg setara manusia setengah dewa dan seterusnya … tanpa memberikan kontribusi bagi tercapainya upaya perbaikan aturan/hukum demi pemenuhan atas hak2 para penggiat kesenian itu sendiri.

+ bagaimanapun pandangan pro kontra masyarakat ttg FPI, saya masih salut bahwa mereka bergerak bukan hanya bicara..dmn sebagian besar masyarakat masih berkutat tataran konsep, amar ma’ruf dan kenyamanan pribadi…FPI sudah dalam tahap nahii munkar..justru yg hrs disoroti sebetulnya adalah perangkat hukum yang tidak berdaya

– saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan , karena sayapun dihadapkan pada problematik2 nyaris serupa . Tapi sudahlah , kita stop dulu membicarakan FPI , sudah mulai agak overload . Nanti dipikir saya punya ‘vested’ lagi :p

Pada prinsipnya , kembali pada topik diatas … Pemerintahan selama ini memang bener2 mandul ngurusin hak2 saya sebagai warga negara . Sementara kewajiban saya untuk hidup teuteup di-kejar2 , harus bayar pajak , listrik , air … telat sedikit diputus tanpa kompromi.

Dan saya masih harus berdiam diri? , masyarakat mana yang peduli pada hak2 profesi spt yg saya alami? kontribusi dan dukungan moral apa yang mereka berikan? Masyarakat musik pop indonesia yang mana yang katanya sudah dihuni oleh professional2 dibidangnya.

Nyatanya nyaris semuanya ‘tiarap’ menghindar dan terkesan tak ingin berurusan dengan aturan yg resmi ketika saya mencoba membela , memperjuangkan sendiri hak-hak saya sendiri.

Tapi , kalau ada proyek yang bisa mendatangkan materi bagi orang2 tersebut … rameee di pasarr!.

omongan2 dalam tulisan ini , kalaupun toh sampai terbaca keluar … paling banter : “wah … jsop marah2 tuh” ; biar saja itu kan hak dia untuk marah , ini kan negara demokrasi dimana orang bebas berpendapat” ; mati nggak gw … tiap hari ketemu sama orang2 model yang begituan , hedeehh … gw panggil lagi dah si FPI , “sini bang … bawa golok yang tajem!”

+ kalo pemerintahnya mengerti en paham berkesenian maka pintar akan melantunkan irama ROKENROL

+ manajemen kulakan, pendekatan klontong, dengan orientasi untung rugi yang terukur

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara