saya bukan ‘penjaja seni kata2′

Saya bukan lagi typical orang yg bisa OMONG KOSONG tanpa upaya untuk melengkapi ISI. Kalau ada orang yg sudah membaca karakter Manusia Indonesia berdasarkan tulisan Mochtar Lubis maka tulisannya dalam buku tersebut sekaligus sebagai cermin bagi saya selama ini untuk berkaca diri.

Bagi saya , Manusia Indonesia yang dipahami lewat ranah falsafah PANCASILA memang belum jadi. Saya adalah manusia JAWA yg lebih otentik , yang selama ini sedang bermetamorfosis menjadi Manusia Indonesia yang Pancasila. Demikian pula halnya dengan orang2 yang ada disekeliling hidup saya selama ini , tak terkecuali sampeyan sendiri … kita semua sedang ber-PROSES. Masalahnya: ada yang jalan ditempat atau bahkan keliru ‘persneling’ hingga surut merangkak mundur kebelakang.

Tuntutan menjadi Manusia Indonesia adalah terwujudnya manusia berkarakter Pancasila. Karakter Pancasila hanya bisa dibangun jika terkawal ketat sub-ideologi: Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa. Bagaimana mungkin bisa disebut membangun karakter jika dalam penggunaan kalimat2 dalam bahasa se-hari2 saja ‘manusia Indonesia’ saat ini lebih getol ‘cas-cis-cus’ berbahasa asing. Nyaris semua logo / judul / keterangan / nama tempat2 yang ditemui dijalan , sejauh mata melek terbuka adalah kalimat2 dalam bahasa asing.

Bahasa Indonesia adalah kesepakatan bersama untuk tidak menggunakan bahasa lokal (misal:jawa dlsb) dalam berkomunikasi antar sesama warga bangsa yg berlatar belakang kultur budaya berbeda . Bahasa Indonesia adalah alat PEMERSATU . Ini bukan masalah Globalisasi , bukan masalah modernisasi sbg tuntutan jaman , bukan pula masalah sekedar menggunakan kalimat dalam berbahasa , ini masalah KARAKTER kita ini siapa. Bahasa juga bukan sekedar alat untuk berkomunikasi , bahasa adalah scientific , Bahasa adalah SIMBOL yang mengisi identitas satu entitas manusia dengan lingkungannya sendiri semenjak keluar dari mulut rahim menjadi jabang bayi .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara