bombas

mari membiasakan diri untuk tidak terjebak berkepanjangan dengan kata-kata bombastis agar terkesan menjadi ‘kalimat2 yg besar’ namun ternyata kosong melompong karena memang tak ada isinya. Lalu bagaimana mengupayakan ‘isi kalimat’ yang saya maksud?

Ini paradigma yang terjadi pada diri saya sendiri: bahwa ketika berpikir untuk mengolah berbagai macam persoalan , selalu ada keterlibatan kognisi untuk menganalisa segala sesuatunya berdasarkan dukungan fakta2 obyektif , empiris , yang pernah saya temui [common sense] , bukan dari cerita/pengalaman orang lain yang keabsahannya masih diragukan.

Dengan begitu, maka setiap kalimat yang terucap maupun tertulis bisa kita pertanggung-jawabkan dasar2 argumentasinya. Dengan begitu pula hal tersebut mendorong kesadaran kita sendiri untuk berani bertanya daripada sesat dijalan yang nantinya bisa menjadi senjata makan tuan: alias omdo , ember bocor , atau dulu populer dengan sebutan ‘tukang jual kecap nomer paling ciamik’

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara