politik nurani

‘social conscience’ , memahami POLITIK dari dimensi berbeda:

jaman ini bukan lagi seperti jamannya jeng siti nurbaya , dimana kebenaran dng seketika bisa ditemui menyertai akhir deretan kalimat yang terucap. Kebenaran itu ada diujung paragraf yang ber-kelok2 panjang sekali … dia bisa ditemukan dan dikenali lewat disiplin ilmu retorika.

Namun retorika itu berbeda dengan silat lidah , retorika itu ilmu menganalisa teks lewat ungkapan dan cara2 mengunakan bahasa yg indah untuk memahami watak kejadian dimasa lalu sebagai panduan untuk mengenali apa yg mungkin akan terjadi berikutnya

Sedangkan silat lidah itu akal2an yang sama2 menggunakan ungkapan dan cara2 berbahasa kalimat yang indah , namun nihil data , atau tidak menguasai persoalan , tapi sok tau . Banyak orang sok tau yang tampak menjadi sombong. Menaklukkan kesombongan karena ‘sok tau’ jangan menggunakan cara2 yg sama. Itu artinya kita juga sama2 ndableg , ladeni saja mereka dengan data persoalan yang sudah kita punya/miliki

Kehidupan adalah cara2 orang dalam berpolitik untuk bersosialisasi terhadap sesamanya. Anda, saya, dia dan mereka semua , yang disebut ‘KITA’ , adalah pelaku2 politik didalam satu masyarakat yang berbangsa. Politisi yang baik selalu menguasai data sebelum bicara , tidak akan ngomong asal sembarang ngomong. Maka dari itu jadilah ‘politisi’ yg baik , ‘politisi swasta’ bukan seperti mayoritas politisi partai yang ada di dpr sekarang

Politik itu pada intinya adalah keterangan tentang satu perilaku ‘kata kerja’ , perihal berbagai tarik menarik kepentingan , seperti: anda mau berbisnis? … kuasailah politik berdagang sebelum kecebur kelaut karena polos dan lugu nekat berbisnis

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara