kepala batu

“Lempar batu sembunyi tangan atau buruk rupa cermin dibelah” … musik Indonesia industrinya hancur berantakan karena ulah pembajak dan seterusnya , sampai menyeberang ke urusan2 yang lain , seperti: pranata aturan dan hukum negri ini kacau balau karena kelakuan para pemimpin , politisi , koruptor dan sebagainya

Emangnya siapa yang ngomong seperti itu sambil menepuk dada didepan kamera berdiri diatas mimbar lalu doyan pidato. Yang ngomong ya mereka-mereka sendiri yang mau cuci tangan , seolah bersih tidak pernah terlibat persekongkolan2 yang membuat semuanya itu menjadi berantakan. Alasannya? … ya apalagi kalau nggak mau ikut terseret disalahin sambil berharap masih punya peluang kesempatan untuk bisa mengamankan bisnis , posisi dan jabatan … eksis lagi deh si kepala2 batu

Ancaman disintegrasi bangsa? … tahukah kita semua bahwa kekacauan2 dinegri ini ‘masalah’ sebenarnya tidaklah se’njelimet persoalan SARA yg dulu pernah dihadapi oleh bangsa2 Uni Soviet. Orang Indonesia jauh lebih kuat rasa persatuannya , karena ikatan warisan adat-istiadat yang saling menopang & membutuhkan.

Yang bikin kacau itu , ketika ada satu kelompok orang melakukan kesalahan2 , maka orang2 tersebut relatif masih dibiarkan terus merasa punya hak untuk bercokol , sampai kelak hukum dipengadilan membuktikan. Ini negara Hukum , cetusnya ber-api2.

Dia mungkin nggak mudheng , bahwa makna Hukum itu tidak semata berdiri ditataran kalimat Legal Normatif Tekstual. Hukum non TEKSTUAL juga ada disebelahnya , derajatnyapun sama. Hal2 seperti itulah yang memberi peluang bagi perilaku tindak kejahatan , ketika suatu saat dia bisa merekayasa jerat Hukum yg tekstual menjadi mentah kembali , dan kembali menempatkan dirinya sebagai tokoh yang bersih. Indonesia Raya … orangnya itu2 juga , yang maling , yang seolah jadi orang baik , insyaf sebentaran , lalu jadi maling lagi kemudian , wajahnya serupa terus , sampai goodbye dunia alias sedho. Sedho is matek :p

Orang2 mati yang meninggalkan kekacauan2 yang sama , seperti saat mereka dulu pertamakali bisa duduk diatas singgasana kekuasaan.

Bagaimana dengan industri musik? Siapa yang mengabdikan dirinya untuk menjadi boneka2 asing , yg kemudian untuk dijadikan pangkalan investasi guna menguasai sektor Hulu Hilir hingga sampai Muara. Siapa pula yang menetapkan harga jual bagi produk2 musik lokal hingga nilai jualnya tidak lagi masuk di akal sehat? . Siapa yang menguasai sektor Hilir yg mau tak mau berbasis $ sehingga membuat seluruh biaya bagi komponen2 pendukung postproduction melambung setinggi langit. Sementara dikenyataan yg lain , nilai rupiah masih terus terpojok jongkok bahkan berpotensi terlentang

jika kemudian lahir bermunculan para pembajak2 di berbagai lapak2 disudut kota yang memperdagangkan produk musik dengan harga lebih rasional , apakah mereka itu sejatinya memang adalah kaum pencoleng? maling pasar dsb?

Industri musik pop Indonesia hancur? siapa yang membuatnya hancur? Dari dunia Politik yang melahirkan turunan sampai ketataran sosial budaya , orang2 serakah dan berkepala batu-lah yang membuat semuanya ini menjadi hancur

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara