lahiriyah bathiniyah

“jsop itu kaya atau miskin” … amien , alhamdullilah saya ini orang kaya. Orang kaya adalah definisi tentang orang yang bisa merasakan nikmatnya kemewahan yang lahiriyah secara batiniyah. Sebaliknya begitulah definisi bagi orang yang miskin menurut pengertian Kaya atau Miskin yang saya pahami. Orang yang tidak mampu merasakan apa yang bisa saya rasakan , lewat medium obyek maupun subyek yg ‘padahal sama’.

Ada sebuah lagu dengan judul Misteri yang saya ciptakan untuk menggambarkan kondisi tsb , hanya sayang lagu tsb tak ‘berbunyi’ seperti apa yang saya harapkan (banyak faktor sbg alasan2nya)

Ada seorang bocah dipagi buta disebuah persimpangan me-minta2 uang pada saya , saya beri selembar 500 rupiah dari dashboard mobil tempat tumpukan uang bagi cadangan parkir. “terimakasih om” ; dia berlari girang menjauh dari mobil saya.

Beberapa saat berselang , ditempat yang sama dia menjumpai saya lagi sambil memohon iba. Saya merogoh kantong yang isinya hanya terdiri dari lembaran 50.000 rupiah , ikhlas saya berikan kepadanya selembar karena tak mungkin saya bisa berharap akan ada kembaliannya. “terimakasih om , om yang duluuu yaa” ; ber-jingkrak2 kali ini dia sambil berteriak histeris bikin pengumuman pada teman2nya yg sekonyong bergerombol mengerubungi mobil , tapi saya sudah keburu persneling 1 , tancap … aman deh

Seminggu kemudian , lagi2 saya berhenti dipersimpangan itu pada jam yang sama. Lagi2 pula dia yang menghampiri mobil saya. Untung ada 500 uang koin tergeletak di dashboard , tanpa banyak cingcong saya buka jendela lalu berikan koin tersebut kepadanya. Tak perlu mendiskripsikan tatapan mata dan raut wajah kecewa yang memancar dimuka. Sudah jelas bahwa dia telah kehilangan rasa KEMEWAHAN semu yang kemarin dia dapatkan dari saya , artinya: saya jugalah pihak2 yang turut terlibat dalam pengerusakan2 budaya sibocah tersebut.

Dia kini butuh waktu lagi untuk bisa merasakan nikmatnya tempe hangat ditambah sepotong daging ikan beserta nasinya. Dan saya tak akan lagi mengulangi perilaku konyol , bodoh yang seperti itu , apapun alasannya. Karena sayapun kini bisa merasakan nikmatnya hidup dalam sebuah keluarga yang nggak banyak maunya , namun alhamdullilah apa saja yang saya ‘inginkan’ selalu berdasarkan kebutuhan yang memang sudah mutlak harus terpenuhi.

Hikmahnya? … saya pantang mengemis!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara