londo ireng voc

Mengenali strategi global melalui penetrasi budaya guna membentuk pasar itu perlu dipelajari dng benar selanjutnya benar2 untuk dipahami , supaya tidak linglung sampai kebingungan sendiri. Kisah di awal2 tahun 1990 sudah ber-kali2 saya ceritakan lewat tulisan2 saya di blog. Tahun2 dimana ketika saya membentuk kelompok musik yg saya beri nama Suket alias rumput.

Medio 1990 adalah terbukanya lebar2 pintu masuk bagi investasi asing , yang ditandai dengan hadirnya major labels Industri musik pop dinegri ini. Apa ya pertama mereka lakukan? ; yang dilakukan adalah membeli/menguasai semua asset2 produk musik lokal baik yang sudah beredar ditengah masyarakat maupun yang masih mendekam dilemari simpanan master milik seluruh para produser se-Indonesia disaat itu (pemodal lokal).

Menguasai semua master dari produk2 musik pop lokal adalah upaya untuk mengontrol paradigma/kebiasaan2 selera maupun taste yang pernah berlangsung sebelumnya. Mengosongkan stock suply pasar itu pada intinya. Setelah gerak laju distribusi lama bisa dikontrol untuk dihentikan (mekanisme pengendalian stock) , langkah berikutnya adalah meng-hire semua pelaku2 bisnis industri musik lokal untuk berbaris dibawah bendera2 baru , bendera major labels internasional.

Dua langkah penting diatas berjalan dengan baik nyaris sempurna tanpa kendala hambatan berarti , seperti halnya saya dan Suket yg layaknya hanya sejentik kotoran diujung kuku jari tangan mereka. Langkah ketiga adalah langkah terpenting berikutnya , apa itu? ; standarisasi penyeragaman lewat penetrasi budaya melalui industri informasi , yaitu lewat media audio visual broadcast televisi beserta sub-industri turunannya. Segala bentuk aneka macam acara2 musik modern yg jauh lebih maju dan canggih mereka tampilkan , menggeser semua bentuk2 tampilan musik pop yang tak sesuai dengan design global . MTV dan sejenisnya adalah acuan baru sebagai parameter2 baru jika orang indonesia ingin mengenal musik dan bermain musik diwilayah industri musik Indonesia.

Hari ini adalah hasil dari apa yang telah dilakukan oleh sebuah proses kerja yang direncanakan dimasa lalu. Apakah proses tersebut bisa dianggap mudharat saja? ; tentu tidak , sebab budaya didalam satu kebudayaan itupun terus bergerak dengan sendirinya , yang membuat kebudayaan tidak statis diam ditempat , manfaatnya adalah kita semua belajar untuk berpikir dan berperilaku modern. Tetapi mudharatnya adalah berpikir modern untuk kepentingan industri ekonomi bangsa lain , bukan demi kemaslahatan bangsanya sendiri.

Gambar diatas adalah gambar kolonialisme VOC , kasuistis di Industri musik Indonesia adalah gambaran kecil dari sebuah peta besar bentuk penjajahan2 baru lainnya yang terus berlangsung dinegri ini. Jika saya menggunakan kata sebutan yang agak2 lebay untuk menuding hidung para ‘pengkhianat’ musik pop yang menjadi antek2 kolonialis diatas … dari A sampai Z ada didalam catatan benak saya , tersimpan dengan baik!

jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara