krisis lagu

Kemajuan jaman harus disertai dengan pemahaman akan ruang lingkup fungsi / peran profesi yang lebih rinci. Sebagai contoh , sampai periode medio 70’an saya menyadari akan fungsi dan peran saya sendiri sebagai pemusik yang berada diruang kerja penataan musik , disebut arranger. Analogi arranger itu tugasnya seperti koki tukang masak yang menerima bahan pokok makanan serta bumbu2 [ingredients] yg harus diolah agar menjadi hidangan yang sehat dan tentu saja wajib enak terasa dilidah.

Diperiode berikutnya , sebagai koki masak saya mulai merasa ‘kesepian’ karena tidak adanya suply bahan2 makanan baru yang harus saya kerjakan , sementara permintaan terhadap daftar isi menu agar lebih variatif , adalah kenyataan yg tidak bisa dihindari lagi. Maka semenjak saat itulah [1977 dst] saya lebih memberanikan diri untuk tidak membatasi ruang gerak kerja sebagai koki , secara bertahap saya belajar menciptakan menu baru sendiri , yang kemudian untuk saya olah [masak] sendiri.

Tulisan diatas , untuk menggambarkan perspektif sudut pandang saya dalam mencermati perkembangan musik pop dinegeri ini. Banyak musisi kita yang kurang peka dan sensitif untuk memahami fungsi2 dan peran2nya , seperti yang sudah saya uraikan diatas.

Saya mengenal koki-koki yang briliyan dari sejak menjelang 1980 , namun ketika ybs mengalami kondisi serupa dengan yang saya alami [kekurangan suply bahan] , maka musisi2 tersebut dimata saya menjadi ‘mubazir’ , sebab mereka hanya meng-ulang2 hal yang sama. Normatif tanpa inovasi dan gagasan2 baru … karena materi2 yg diolahpun adalah pengulangan2 dari daftar menu yg sudah tersedia lama.

Artinya bahwa musik pop Indonesia krisis komposer/pencipta lagu yang mumpuni. Yang mengakibatkan koki2 arranger diatas tidak punya pilihan lagi untuk terpaksa harus meng-ulang2 . Karena tidak semua profesi pemusik itu harus mengusung peran ganda. [sebagai komposer sekaligus arranger]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara