antara bodoh & pintar

‘Mengapa harga2 bahan pokok itu bisa melonjak setinggi2nya & dengan cara2 yang seenaknya sendiri’ :

Bahasa pragmatis : ah, itu masalah mekanisme pengendalian stock pangan digudang dll
Bahasa non pragmatis : itu mental tengkulak dll
Bahasa politis: ah itu biasa, permintaan pasar/konsumen yg selalu lebih tinggi pada hari2 besar dll

Bahasa substansi: dianggap naik atau turunnya harga kebutuhan bahan pokok memang tergantung kepada daya beli > Namun ukuran daya beli tidak serta merta tergantung pada ukuran kaya atau miskin , tetapi tergantung pada nilai alat tukar yang digunakan untuk membeli produk2 import dari luar negeri … namanya duit/uang/rupiah. Rupiah yang punya martabat dan stabil tidak akan melahirkan paragraf kalimat : bahasa pragmatis / non pragmatis , politis diatas

Dinegri ini : orang ‘setengah bodoh’ akan lantang berbicara , orang pintar justru kehilangan kata2 & diam seribu bahasa. Akibatnya : orang Pintar dan orang Bodoh tipis bedanya.

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

Comments are closed.

elektronik sigara