terompet perang siap ditiupkan

sore tadi bertemu dengan Debby Nasution dihadapan kuasa hukum , guna menindak lanjuti segala sesuatu yang harus dilakukan dengan segera.

Saya bukan model seniman yang hobi sensasi dan yang senang mengumbar somasi kesana kemari , yang dalam sekejap bisa dibungkam hingga diam seribu bahasa asal mulutnya disumpal dengan iming2 materi.

Kadang memang diperlukan sikap lebih keras yang tampak penuh dengan letupan emosi , agar mereka tau , saya ini Yockie Suryo Prayogo yang sama sekali tidak sama dengan apa yang mereka sederhanakan secara begitu saja … emang sapa elu sih!

Perang saya adalah perang melawan kesewenangan atas nama hegemoni kekuasaan materi dan popularitas. Perilaku pragmatisme yang menafikkan fakta perjalanan sejarah serta dengan seenaknya membangun dunianya sendiri sambil membusungkan dada atas nama generasi2 baru yang mengaku mewakili peradaban modern.

Tuntutan saya itu jelas dan konkrit:

A. PERNYATAAN MAAF DARI SEMUA PIHAK YG TERLIBAT
B. TERPUBLIKASIKAN MEDIA
C. KONSEKUENSI KERUGIAN YG DIAKIBATKAN

Semenjak awal somasi , tidak ada bantahan yang bisa dikesampingkan dari 3 (tiga) poin yang menjadi tuntutan saya diatas. Namun , upaya mediasi selalu diarahkan agar saya mau berdamai dan diselesaikan secara musyawarah dengan baik2.

Siapa yang tidak mau baik2 , siapa yg tidak mau bermusyawarah? , tetapi musyawarah haruslah mengacu kepada 3 hal tuntutan diatas melalui kuasa hukum yang sudah saya tunjuk dan kuasakan.

Mereka selalu berupaya , agar saya mendefinisikan nilai ganti rugi secara tertulis . Apa pula maksudnya itu??? . Yang melanggar itu mereka , kenapa saya harus tampak seperti orang miskin tak berdaya yg minta2 uang secara resmi? . Sebegitu bodohnyakah saya untuk bisa digiring keluar dari topik tuntutan yang sebenarnya?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara