sok bisa

Musik disebut kerja profesional saat dia mampu membangun berbagai disiplin profesi guna mengusung kebutuhan karakter ekspresinya masing2. Dimulai dari sebuah gagasan yang kemudian menjadi lagu > lalu di aransemen , hingga menentukan cara2 bagaimana mengaplikasikannya secara kolektif dengan musisi2 lainnya. Maka , jika saya kelompokkan , metode diatas tsb saya anggap: langkah/step 1 [pertama]

Langkah ke 2 [kedua] mampu menterjemahkan secara rinci ketika musik dan lagu menghadapi faktor tehnis sebagai elemen pendukung yang berfungsi untuk meng-aplified seluruh kebutuhan sistim auditif dan visual

Metode diatas [1 dan 2] adalah satu pemahaman integral bagi tugas seorang production director yang harus berke-cakap-an untuk menunjuk orang2 yang kompeten menjalankan fungsi & perannya masing2. Memahami faktor tehnis dan non tehnis bagi sebuah rancangan/design yang dikehendaki

Dunia musik kita menjadi semakin semerawut karena banyak orang2 yang tidak kompeten yang se-konyong2 merasa paling tau dan paham bagaimana memproduksi musik. Merasa paling tau dan bahkan menentukan mana musik yang bagus dan mana musik yang buruk … hingga urusan tata suara s/d stage production beserta pernik lain2nya

Saya menggunakan analogi sbg simplifikasi-nya : apa yang akan terjadi jika perusahaan tempat anda bekerja dikelola oleh sang pemilik modal yang merasa paling benar sendiri , atau orang yang dianggap paling berpengaruh , yang bisa memutuskan apa saja atas dasar kehendak hatinya sendiri. Saya yakin anda akan tetap bekerja sesuai kapasitas yang cenderung asal2an demi gaji buta.

Disisi lain nasib perusahaan dimana anda bekerja pun akan 100% tergantung pada nasib baik/buruk [mistis] yang tak ada kaitannya dengan tugas / kompetensi yang anda jalani. Ini jenis penyakit menular aji mumpung , yang dijaman ini sudah sangat tidak relefan untuk dimaklumi. Saya sendiri malas jika menghadapi yang beginian sejak dulu … daripada berseteru ribut melulu , lebih baik hengkang angkat kaki. Dan kebetulan pula musik Indonesia memang nggak maju2 karena hal2 semacam itu. Lebih banyak kutu loncat nya daripada jumlah seniman2nya

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara