… perlawanan

Kacaunya mengurus Hak Cipta di negeri ini … sejak medio th.1970’an kontrak kerja antar seniman dan pemodal selalu bersifat ‘JUAL PUTUS’. Yang artinya, bahwa setelah seniman memperoleh honoraium sesuai kesepakatan bersama , maka produk musik/lagu tersebut menjadi Hak Mutlak dari pemodal untuk boleh menggandakannya melalui media fisik apa saja , kapan saja , tanpa batas waktu masa beredar

Belum lagi kesadaran dari seniman2 nya sendiri (termasuk saya khususnya) untuk ‘TELITI’ dalam memeriksa judul2 lagu serta siapa2 saja penciptanya ketika kalimat2 tersebut dibutuhkan untuk menyusun redaksional sebagai bagian dari kelengkapan merancang cover/design kaset dan lain2. Hal tersebut dipicu karena kurangnya rasa kepedulian pada hal2 yang bersifat FORMAL demi kebutuhan aspek2 Legal.

Selain ‘bargaining position’ yang lemah hingga berdampak : dianggap murahnya karya2 produsen dimata pemodal , juga tidak ada jaminan bahwa produk2 tersebut akan memiliki nilai/value yang tak akan lekang dimakan waktu dan jaman , bahkan terpikirkan pun rasanya tidak. Seniman menjadi naif dengan dunianya sendiri tanpa menyadari kehadiran industri yang harus dihadapi dengan cara berbeda [sys management].

Singkat kata , pada sekitar tahun 1997’an saat gelombang free market / globalisasi merubah kebijakan mikro dunia perbankan lewat berbagai deregulisasi , barulah mulai terjadi perubahan2 yang signifikan. Industri musik di Indonesia meninjau kembali berbagai perjanjian2 / kontrak kerja versi lama untuk dibatalkan demi HUKUM jika tidak memenuhi unsur Kesetaraan & azas Keadilan. [sesuai logika Hukum]

Saat itu pula saya sudah mempersiapkan diri untuk bisa mulai menata kembali apa2 saja yang pernah saya kerjakan sebelumnya (dari mulai medio 1970’an diatas). Namun peristiwa Reformasi Mei 1998 membuat langkah menuju upaya2 tersebut terpaksa harus tertunda.

Memasuki abad XX , saya awali kembali untuk memperjuangkan hak-hak diatas. Hasilnya? …saya ter-huyung2 keteteran untuk bisa melawan sendirian , modal besar dari kekuatan ekonomi asing yang melahirkan hegemoni kapitalis borjuasi teramat sulit untuk bisa disentuh apalagi sekedar untuk ditowel agar bisa dirubuhkan.

Era kehancuran kapitalis wall street datang , dunia mengalami goncangan resesi babak berikutnya. Satu demi satu para pemodal kapitalis imperialisme diatas hengkang ‘ANGKAT KAKI’ dari bumi Pertiwi. Ditinggal pemodal maka , Industri musik Indonesiapun tak urung mengalami kekacauan. Segala macam cara yang masih bisa mereka tempuh dilakukan demi mengais sisa2 makanan yang masih bisa mereka telan. Termasuk diantaranya menjual lagu hanya dalam hitungan detik , menjual lagu ditoko daging dlsb. entah mungkin saja esok mereka akan berinisyatif jualan lagu dengan menitipkan ke tukang sayur yang selalu lewat depan rumah dengan gerobaknya , lengkap dengan cd recorder dan alat untuk halo2.

Musik Indonesia menjadi produk dagang yang kehilangan jati diri dan martabat berkesenian. Masih tetap miskin tanpa perlindungan Hak Cipta memadai tetapi aku berada dalam genggaman tenaga gaib kegagahan yang riil masih bisa kurasakan … tentu saja bukan kesombongan yang kumaksud disini. Kesombongan tak akan menghasilkan apa2

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara