Lebaran > nyekar

‘Ritual’ Idul Fitri selalu saya awali dengan Sholat Ied sekeluarga , lalu berkumpul dirumah keluarga besar yang dianggap tertua/dituakan , keluarga dari pihak saya dan keluarga dari pihak istri (mertua) Setelah saling memaafkan saya menuju ke makam yang kita kenal dengan isilah nyekar.

Nyekar adalah produk Kearifan Lokal , yang dijaman modern ini bertujuan untuk mengingatkan kita yang masih hidup dialam fana , agar mengenang jasa2 mereka yang telah mendidik , memberi atau bahkan membesarkan kita sebagai manusia hingga dewasa. Karena itu pulalah dalam menjalani paradigma nyekar selalu melibatkan anak2 saya.

Nyekar tidak ada hubungannya dengan ‘mengunjungi orang mati’ untuk memohon petunjuk , apalagi membaca ayat2 suci agar diberi berkah. Membaca doa2 di kuburan bagi saya bermakna memanjatkan doa bagi Nabi Muhammad SAW dan atas segala KEBESARAN ALLAH Tuhan Yang Maha Esa.

Nyekar atau mengunjungi makam tak ubahnya ketika orang diajarkan untuk mengunjungi museum atau situs2 warisan sejarah , agar menjadi beradab. Sebab peradaban yang baik hanya diperuntukkan bagi mereka yang bisa menghormati jasa2 para pendahulunya (pahlawan) , ataupun tempat2 yang menjadi bukti dari peninggalan sejarah.

Hanya makam yang masih tersisa , yang masih bisa dikunjungi. Sebab bukti2 sejarah yg lain dalam bentuk: ‘bangunan atau tempat2 dari berbagai peristiwa kemanusiaan terjadi di masa2 lalu’ … sudah menjadi hutan beton yang gagap dan bisu , lagi budeg karena tidak bisa diajak berbicara untuk membangkitkan empati

Mari kita menjadi masyarakat dari bangsa yang beradab walau minim ‘sarana’

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara