Islam yang memaafkan

“Sudahlah … dimaafkan saja mumpung Lebaran , Sudahlah … memaafkan itu pahalanya besar daripada menunggu orang yang khilaf meminta maaf … dst”

Demikian kalimat2 bernuansa spiritual ke-agama-an diatas masih sering terdengar dimana saja. Satu hal yang seringkali tak disadari , seperti dalam tulisan status saya beberapa hari silam perihal bedanya : ranah Fiqih dengan Syariah. ISLAM adalah ajaran agama tentang PELURUSAN namun tanpa PEMAKSAAN2 kehendak. Artinya, jika sudah diupayakan tak juga berhasil … maka yang berlaku adalah : “lakum dinukum waliyadin” [untukmu agamamu dan untukku agamaku]

Konteks PELURUSAN dipahami sebagai meluruskan segala sesuatu yang keliru / salah diartikan. Tidak ada sepenggalpun ajaran dalam ayat-ayat Al Quran yang saya pahami untuk MEMAAFKAN dengan menafikkan kekeliruan yang harus diluruskan. Orang Indonesia itu mewarisi perilaku romantisme yang acapkali lebih sering kebablasan [sentimentil]. Dipikirnya kalau sudah Lebaran lalu salam2an , maka ‘putih’ sudah semua persoalan yang tadinya belang bonteng nggak keruan.

Memaafkan itu wajib? … sudah barang tentu WAJIB! dan orang yang berperilaku Islami tidak harus menunggu Hari Raya Lebaran untuk harus saling memaafkan. Namun itu semua dilakukan dalam KORIDOR saling MELURUSKAN apa saja yang harus DILURUSKAN. Demikianlah alasan utama mengapa saya memeluk agama Islam sebagai Agama saya.

Islam itu modern , transparan dan menuntut akuntabilitas … persis seperti tuntutan2 jaman sekarang ini dan bagi jaman2 berikutnya dimasa depan.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara