cemburu buta

Berproduksi butuh sarana hingga biaya. Sarana/biaya yang minim akan menghasilkan produk kerja yang ‘minim’ serupa. Terkadang sarana minim mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa … tetapi itu kasuistik , situasional dan bersifat keberuntungan. Bekerja secara profesional tidak bisa bersandar kepada keinginan terulangnya kembali ‘keberuntungan’ serupa.

Bekerja harus menutup mata pada harapan akan menerima imbalan yang kelak bisa diterima , namun melakukan yang terbaik , hingga orang lain bisa saja akan menjuluki kita bak seekor kuda lengkap dengan kacamatanya. Buka lebar2 ketulusan didalam hati untuk fokus kepada apa yang ada dihadapan mata … bahkan orang2 sekaliber Bill Gates , Steve Jobs sekalipun berkata: Buang saja ke tong sampah apa2 saja yang berpotensi mengganggu konsentrasi , termasuk kotak ajaib yang namanya televisi

Itu hanya ilustrasi , bagi sebuah analogi ketika saya dianggap maniak ketika sedang bekerja , dianggap tidak toleran , dianggap eksklusif , hingga dianggap ‘keras kepala’ dan seterusnya

Bagi saya: diskusi berkepanjangan , ide dan gagasan hanya berlaku ditahap awal pra-kerja , diskusi2 susulan berkepanjangan tidak bisa menghentikan gerak proses kerja layaknya ‘interupsi’ diruang debat sidang yang demokratis. Yang saya tau , saya hanya wajib untuk bertanggung-jawab disaat nantinya proses2 kerja hanya menghasilkan sesuatu yang buruk dan tidak membawa manfaat apa-apa sama sekali

Mencurigai bahwa saya ingin ‘tampil’ diakhir cerita? … so what … apa yang salah jika dikemudian hari ada seseorang yang memperoleh apresiasi atas segala jerih dan payahnya sendiri. Profesional itu juga berarti kemampuan kita untuk menghormati wilayah kompetensi dan prestasi yang dicapai orang lain. Sama sekali tidak ada urusannya dengan narcissism.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara