saya dipolitisisasi ?

Dalam sebuah acara jumpa pers : “mas … ikutan memainkan lagu ciptaan SBY apa nggak khawatir kalau bisa dipolitisir sama SBY” ; … jangankan SBY , emangnya tidak ada orang lain lagi yang bisa mempolitisasi saya? siapapun bisa mempolitisasi saya . Tapi mengapa tidak pernah terbesit dibenak anda bahwa sayapun bisa mempolitisasi SBY atau siapapun juga

Anda mau tau alasan saya mempolitisasi SBY atau orang lain? , baca dan pelajari riwayat hidup serta kepentingan saya sesuai dengan bidang profesi saya. Temukan saja ‘vested interest’ bila anda menjumpainya , lalu silahkan … kritiklah saya secara terbuka , asal jangan kasak kusuk pasti akan saya layani dengan baik

-0-

Politisi butuh kemampuan retorik dalam menata struktur kalimat dan kata2 (bagi ajang debatable tarik menarik kepentingan) , disanalah politisi menggaet konstituen2 partai politiknya lewat pengumpulan jumlah suara pendukung.

Seniman butuh karya , ketika produk karya seniman diapresiasi oleh masyarakatnya , maka masyarakat tersebutlah yg notabene adalah konstituen2 ‘partai seni’. Jika di analogikan menjadi partai , maka ‘Partai Seni’ tidak berorientasi pada kekuasaan. Martabat profesi seniman tidak akan pernah bisa dicederai oleh seniman2nya sendiri , jika ada seniman2 yg melakukannya (ambigu / standar ganda) maka dia akan rontok secara perlahan dan punah dengan sendirinya (ditinggalkan masyarakatnya). SENI tetap akan berada ditempatnya … secara terhormat & mulia

Hal mendasar yang menjadi alat tolak ukur guna membedakan paradigma antar perilaku politisi dengan seniman adalah sbb:

Politisi wajib bicara kepentingan sesaat yang harus direbut (pembenaran) untuk meraih LEGITIMASI bagi diterapkannya produk2 aturan/hukum. Retorika hari ini bisa saja berubah , berbeda dengan retorika yg telah diucapkan hari kemarin , maupun yang akan disampaikan untuk hari esok. Semuanya disesuaikan dengan dinamika yang muncul kepermukaan. Jika ada orang awam yang kemudian menjatuhkan ‘vonis’ justifikasi > “mulut politikus itu busuk” karena tidak pernah sama dst … maka sebetulnya memang begitulah karakter kerja DUNIA POLITIK PRAKTIS ketika mereka sedang berproses.

Sedangkan seniman tidak bicara kepentingan sesaat , tetapi bicara tentang POTRET REALITAS yang terjadi disekitar hidup mereka sendiri. Dari mulai potret semenjak masa silam > potret hari ini … dan melalui kepekaan daya sensivitas mengolah pikiran & bathinnya mampu mengintip jendela potret hari esok hingga masa depan. Seniman tidak bisa menggunakan ILMU BER-RETORIKA sebagaimana layaknya POLITISI , sebab bertentangan dengan satunya kata dan perbuatan , yang lahir dari tuntutan KEJUJURAN SENI.

Seni itu Keindahan … tidak akan ada Keindahan Seni bila tanpa muatan Kejujuran … tidak akan diakui Kejujuran untuk memperjuangkan kebaikan tanpa Kebenaran yg hakiki (bukan milik manusia) tapi Kebenaran Sang Khalik / Tuhan. Maka … dipahami Seni adalah representasi dari Kejujuran yang bersandar pada sifat Kebenaran Tuhan , bukan berdasarkan ukuran kebenaran manusia. Moral Seniman dan Agamawan > seharusnya beda tipis karena keduanya sama2 merasa dekat dengan nilai2 Ke-Tuhanan

Tapi itu seharusnya … nyatanya banyak orang mengaku agamawan dan seniman tapi ‘bejat’ juga. Untuk itu tidak perlu merasa khawatir berlebihan … seleksi alam akan bekerja dengan sendirinya , salam \m/

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara