mengembalikan orientasi

DIA atau MEREKA itu jelas bukanlah AKU , walau diputar-putar akan sama saja , walau dibolak balik posisinya tetap akan sami mawon keadaannya. Namun sebutan makhluk sosial itu julukan bagi semua organ hidup yang ber-aspek kegiatan saling kait-mengkait , campur-mencampuri antar satu pihak dengan pihak yang lainnya. Tanpa DIA tidaklah ada AKU disini , tanpa AKU tidaklah ada MEREKA disana.

Analogi premis diatas kita pahami sebagai keniscayaan masyarakat Indonesia dengan paradigma Gotong-Royong. Bahwa ada kelompok masyarakat produsen (para pekerja pembuat/pencipta karya) , ber-transaksi dengan kelompok masyarakat pemodal (pengusaha) yang kemudian bekerjasama dengan masyarakat Distributor & Agen (pendistribusian bagi produk2nya sampai ketingkat retail) , hingga melahirkan masyarakat konsumen yang menghidupi seluruh rangkaian kerjasama diatas.

Kesimpulan diatas saya tarik ketingkat ‘primordial’ yg paling dalam untuk menengok eksistensi keberadaan diri sendiri sebagai manusia (level paling esensial) , maka bisa diartikan:

“tidaklah ada AKU dengan segala apa yang pernah kulakukan. Tidaklah ada KAMU dengan segala prestasi yang telah kau capai , tidaklah ada MEREKA yang menyambut kehadiran pihak2 lainnya , bila tak ada kerjasama secara gotong royong dalam lingkaran kolektivitas sosio-ekonomi seperti yang digambarkan diatas.

Bagaimanakah memberdayakan peran kita masing2 sebagai individu2 yang mandiri dan pribadi yang otonom , namun tidak berdiri sendiri terlepas dari keberadaan masyarakat gotong royong yang terikat kerjasama secara kolektif tersebut? Jawabannya : setiap orang harus berkarya , mengerjakan sesuatu dari berbagai pilihan jenis katagori kegiatan yang ada diatas > produsen/pencipta , pemodal , Distributor , atau menjadi Konsumen

Dimana posisi anda , sebelum bicara lebih jauh tentang pembenahan apa saja yang harus dilakukan disekitar anda sendiri

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara