feodal vs egaliter

Feodal tidak bisa diukur hanya dengan menggunakan parameter Egaliter sebagai kontra ‘determinasi’nya. Dia terkait dengan berbagi faktor lain , baik secara langsung maupun tak langsung > pendidikan yang melatar belakangi tata-krama / sopan santun , hingga status sosial ekonomi seseorang

Ada berbagai contoh yang sering saya hadapi , tentang perilaku egaliter yang seharusnya bisa diletakkan secara proporsional diruang dan tempatnya masing2. Salah satunya spt dibawah ini:

Suatu saat saya butuh bantuan supir cadangan untuk mengangkut barang2 (pindahan rumah). Setelah bolak-balik beberapa kali , pukul 2 siang saya tanya apakah ybs sudah makan atau belum ; jawabnya belum. Maka saya katakan : ‘makan aja dulu , ntar diterusin lagi kerjaaannya’ ; saya sendiri memang sedang makan.

Tanpa ‘ba-bi-bu’ , dia langsung mendekat kearah saya , menarik kursi dihadapan saya , duduk , menyentuh piring , lalu dengan lugunya mengambil nasi , lauk pauk apa saja yang ada dihadapan saya. Supirman itu turut makan dihadapan saya , dengan baju kaos yang masih berkeringat , dan tentu saja saya nggak berani men-coba2 untuk tarik napas agar hidung ini bisa mendeteksi: ada yg aneh atau nggak selain yang tampak dimata

Saya nggak mungkin melarang apalagi mengusir , emang apa bedanya saya dengan dia? ternyata memang ada … yaitu tata krama. Esok harinya langsung saya ‘pecat’ dia , daripada menambah beban pikiran hanya karena urusan sopan santun.

Demikian halnya di fesbuk saya , saya egaliter tidak pandang status sosial apapun … tapi , kalau ada yang berperilaku mirip-mirip dengan yang seperti saya ceritakan diatas , ya maaf saja … itu juga alasan untuk me-remove atau bahkan saya yang di-remove oleh orang lain.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara