ketika …

“Ketika Ijazah dan Ilmu tak seiring sejalan , manfaat bahkan tidak kelihatan”

Sampai menjelang peristiwa G 30 S tinggal di kota Semarang tanpa kedua orang tua yg sedang bertugas di Kalimantan. Pasca huru-hara pindah ke Kalimantan turut orang tua yg bertugas disana

1967 si joki itu (14 thn’an) nge-drum di Balikpapan mainin lagu2nya rolling stones , 1968 ‘kabur’ ke jakarta lalu betemen sama anak2 panbers , kemudian diangkat jadi kibordis the rhadows (band milik kel.Dotulong) a/l untuk mengiringi trio Visca (Widyawati cs)

Ditahun itu juga disusulin ortu untuk dikirim ke Malang harus tinggal dirumah ex.kep.sek. SMA lll. Tapi sampai di malang lebih sering jadi anak radio amatir (PK.17/band Jaguar) daripada tekun rajin sekolah. Akhir 1970 kabur2an lagi ke jakarta pengennya masuk TIM aja , ngerasa gak bakalan cocok kalau ujung2nya jurusan universitas

Kembali ke jakarta malah jadi anak ‘underground mbambung’ kesana kemari hingga terdampar di radio amatir berikutnya (borobudur 18). Medio 1971 kenal sama pun , lalu ngenalin si pun ke temen2 (sebetulnya sih bukan ngenalin , emang mereka sendiri yg pengen kenalan) :p

1971 s/d 1973 ‘nggelandang di-mana2′ dan jadi cabo band alias perek yg main diband apa aja. Sampai akhirnya diajak bikin band baru yang namanya godbless. Semenjak saat itu bertekad jadi seniman

Hidup haruslah bermakna , mengabdi pada profesi adalah makna yang harus diisi bagi hidup itu sendiri. Ada orang yang bangga menjadi professor dengan produk2 pemikirannya , ada yang bangga jadi dokter bertugas mengatasi problem penyakit , ada yang bangga jadi polisi (seperti ayah saya dulu) , ada yang bangga menjadi businessman karena kemampuan menghidupi kebutuhan ekonomi banyak orang dst

Pada akhirnya saya bisa bangga untuk menjadi seniman , jika saya mampu memenuhi kewajiban untuk menghidupi keluarga saya sendiri serta tidak akan pernah berkhianat pada hati nurani … apapun taruhannya itu.

Bukankah untuk itu kita diberi nyawa untuk bisa hidup dengan baik

Musik > medium untuk menyampaikan berbagai persoalan hidup dengan cara2 yang lebih baik , cara2 yang mampu memperhalus bahasa maksud agar terhindar dari gesekan hingga benturan kepentingan yang acapkali terjebak dalam ketegangan melibatkan cara2 yang kasar / bahasa dalam kalimat2 yg sarkastik

Musik adalah medium independen & otonom yang terbebas dari berbagai perbedaan ideologi yang tak bisa dinafikkan dalam sistim sosial yang terjadi ditengah masyarakat dunia manapun juga. Musik bergerak dengan leluasa terbebas dari sekat2 sistim kelas , dia menjelajahi dunia masyarakat proletar hingga masyarakat elit borjuasi yang kerap identik berdasi

“MEMBUMI” > Bagaimana rasa hidup di gang layaknya orang menggelandang , hingga menyeberang hunian kaum jet set yang disebut orang ‘gedongan’ … biasa itu:p

Hidup perlu bekal disiplin ilmu. Jika saya mau jadi dokter maka minimal saya harus selesai di fakultas kedokteran , jika pedagang harus lulus fak.ekonomi , jika mau jadi scienties harus ke fak.teknik. Saya seniman maka fakultas saya adalah fakultas kehidupan sepanjang masa. Seniman musik pop hari ini? *maaf* jika saya menyebutnya anak2 mami yg manja. Isi otak dikepalanya hanya soal materi :

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara