menjadi hamba logika?

Cara2 berpolitik yang melahirkan RASIONALISME2 pikiran dari LOGIKA yang dipaksakan berdasarkan NORMATIVISME yang ‘aneh’ yang tidak legitimate. Itulah kenyataan yang terjadi di dunia perpolitikan Indonesia. Barusan menyaksikan Mahfud MD Ketua MK di teve , bicara soal harapannya bagi pertikaian antar dua lembaga penting dinegeri ini

Mana mungkin berharap bisa muncul IDEAL-IDEAL bersama , semoga membuat KPK dan Lembaga Kepolisian bisa ‘berdamai dan bersepakat’ untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu dsb. Inilah yang saya bingungkan dari semenjak dulu. Orang Indonesia itu punya kepandaian untuk merekayasa apa saja , dari sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin dan terbukti memang banyak juga yang bisa.

Tetapi itu lebih berfungsi ditataran produk2 budaya visual sub-kultur yang diciptakan oleh keberagaman kultur budaya bangsa Indonesia. Sedangkan khusus di produk budaya dalam konteks budaya pemikiran dalam ber-Bangsa untuk ber-Negara … masih terbukti banyak ‘nggak nyambungnya’ daripada berhasil nyambung tidak TULALIT melulu *kehabisan voucher .. tolong kirimin mama segera*

KPK itu LEMBAGA yang TIDAK BIASA untuk mengatasi kondisi yang juga TIDAK BIASA , POLISI itu LEMBAGA Perfomatik untuk menjalankan roda pengawasan mengamankan hal2 yang LEGAL normatif ‘KONDISI yg BIASA’. Jika terbukti memang banyak oknum2 Polisi yg memang bersalah , yang sudah divonis maupun yang akan diperiksa , serta bisa atau tidaknya dibuktikan kelak nantinya … Bagaimana mungkin bisa dua lembaga itu diharapkan untuk mau berdamai secara elegan berjiwa besar. Itu hanya cerita2 dalam dunia sinetron atau sandiwara telenovela

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara