Aturan adalah KEBENARAN

Etika & sopan santun yang menjadi alat tolak ukur bagi hadirnya martabat serta terjaganya nilai2 moralitas , selalu berawal dari disepakatinya satu PEMBENARAN untuk menjadi KEBENARAN sebagai sandaran aturan. Kebenaran yang dipatuhi secara ber-sama2 oleh orang2 yang terlibat dalam satu komunal masyarakat tertentu. Ada Kebenaran yang bersifat formal , baku dan berlaku mengikat , disebut HUKUM Positif. Ada KEBENARAN yang tidak bersifat mengikat disebut aturan normatif atau hukum tidak tertulis (aturan2 berdasarkan warisan adat atau dikenal dng kearifan lokal)

Ada orang kencing sembarang tempat … maka pendekatan aturan yang bisa digunakan berawal dari teori KEBENARAN PARADIGMATIK (kultural) , bukan KEBENARAN PERFOMATIK yang bersifat HUKUM POSITIF. Kebenaran paradigmatik bicara tentang kebiasaan adat istiadat dari masyarakat tertentu yang menghormati tempat2 tertentu / ruang publik atau tempat2 khusus sebagai areal upacara/ritual atau segala sesuatu yang berdimensi spiritual.

Jika orang tersebut dengan sengaja mengencingi tubuh orang lain , maka yang berlaku adalah HUKUM POSITIF karena telah menghina / melecehkan kehormatan orang lainnya.

Paragraf diatas sebagai kata pembuka bagi persoalan2 lain serta masalah2 apa saja , disaat kita dibuat ragu2 dalam memaknai : “apakah saya sudah benar sesuai aturan , ataukah saya keliru dalam memahami aturan itu sendiri.

Disaat saya merasa berkeberatan hingga melahirkan sikap perlawanan terhadap perilaku Industri (misal: musik). Maka KEBENARAN yg mengawali adalah KEBENARAN PRAGMATIK dan hubungannya dengan KEBENARAN PERFOMATIF .

Kebenaran pragmatik (pragmatisme) adalah: ada orang lain memetik keuntungan2 ekonomi sambil merugikan hak-hak ekonomi orang lainnya didalam satu kelompok masyarakat. Lalu , menjadi pertanyaan saya :”dimanakah KEBENARAN PERFOMATIK” (Hukum Positif) yang seharusnya berfungsi melindungi kepentingan seluruh anggota masyarakat .

Disaat saya resisten terhadap perilaku sistem Politik yang berlangsung selama ini , maka KEBENARAN KORESPONDENSI , KEBENARAN KOHERENSI , KEBENARAN PARADIGMATIK , KEBENARAN PRAGMATIK hingga KEBENARAN PERFOMATIK menjadi pertanyaan2 yang harus dijawab.

Sebab karena KEBENARAN2 diatas itulah saya mengaku sebagai WARGA NEGARA INDONESIA , bukan karena kebetulan dilahirkan diwilayah Indonesia

Kebenaran Korespondesi adalah : “teori tentang kebenaran yang sudah terbukti melalui perjalanan sejarah. Kebenaran Koherensi adalah : “teori2 kebenaran yang saling mengikat [misal: saya anak dari kel.Soesanto yg tidak bisa dirubah serta disangkal]” . Kebenaran Paradigmatik adalah : “kebenaran2 berdasarkan aturan/kebiasaan2 yang telah disepakati secara turun menurun [menjadi kebiasaan]” . Kebenaran Pragmatik adalah : “kebenaran yang diputuskan seketika asalkan memberikan manfaat bagi semua pihak” . Kebenaran Perfomatik adalah : “Lembaga2 formal yang berwenang mengendalikan / mengawasi HUKUM positif agar berfungsi dengan baik dan dipatuhi semua orang.

NKRI belum menjawab KEBENARAN2 yang menjadi tuntutan Warga Negara-nya sendiri. [kebenaran Bangsa Indonesia yang menjadi wujud dari ke-aneka-an serta keberagaman masyarakat Bhineka Tunggal Ika]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara