peduli KPK

‘seniman & penggiat budaya’ PEDULI: Selasa 9 Oktober 2012 pukul: 10.30 : Djaduk Ferianto, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Arswendo, Danarto, fx Harsono, M Sobary, Niniek LK, jsop, Hanafi, Slamet as, Budi D, Zawawi, Saini KM, Radhar P Dahana, Olive Z, Indro Warkop, dll.

Hukum dinegeri ini nyaris hancur luluh berantakan , seperti sebutir telur diujung tanduk yang hanya tinggal menunggu waktu. Mari kita eksplor ‘hukum’ yang mana dan yang seperti apa yang terancam hancur tersebut , agar kita benar2 bisa memahami duduk perkara yg sedang terjadi

Hukum itu produk Politik , itu pengertian dalam bahasa Ketata-Negara-an. Sedangkan dalam pengertian umum , HUKUM itu adalah satu kesepakatan yang menjadi pilihan bersama , untuk kemudian dijadikan sebagai PEMBENARAN yg berlaku bagi satu komunal masyarakat yang hidup dilingkungan-nya masing2.

Kita mengenal Hukum Adat dan Hukum Negara , artinya ada pembenaran versi Adat (lokal) dan pembenaran versi Negara (nasional). Kedua versi Hukum itu harus saling menopang , mendukung serta terintegrasi dengan baik. Perubahan2 untuk menyesuaikan dengan kebutuhan jamannya selalu didorong oleh kepentingan2 dari salah pihak diantaranya. Hukum Negara tidak boleh mencederai Hukum Adat (yg masih berlaku) , demikian pula sebaliknya Hukum Adat tidak boleh menghambat perubahan2 yang menjadi kebutuhan Hukum Negara , ketika ada tuntutan kebutuhan Nasional bagi kehidupan bersama

Yang perlu kita pahami disini adalah bahwa HUKUM itu adalah satu PEMBENARAN untuk menjadi KEBENARAN. Pernah saya tuliskan sebelumnya , perihal: Seperti apakah pembenaran yang masih kita sepakati bersama untuk menjadi satu KEBENARAN

Maka , ketika kesepakatan tersebut bentuknya menjadi RELATIVISME , maka tak pelak HUKUM juga bernasib serupa , dia menjadi makhluk AMBIGUITAS tanpa kepala , karena hukum kini dipahami sebagai aturan yang bersifat RELATIF , bisa iya bisa tidak , bisa kekiri bisa pula kekanan , bisa keatas dan bisa kebawah. Hukum hanya menjadi alat2 bagi perebutan kekuasaan , Hukum yang sudah keluar dari FITRAH-nya .

Lalu mengapa menjadi heran? ketika BANALISME kini merajalela , mengapa heran dengan Korupsi? wong Korupsi itu hanya salah satu dari anak turunannya saja …

Hari ini saya bersama teman2 Seniman dan kalangan Penggiat Budaya mendukung KPK. Kami semua memaklumatkan dukungan untuk memberantas kejahatan Korupsi. Sebab Korupsi adalah mesin2 percepatan untuk merusak , saat HUKUM tidak berdaulat mandiri , saat Hukum menjadi mainan para politisi , saat Hukum menjadi alat untuk saling menyandera pihak satu terhadap pihak2 lainnya. Rakyat / kita semua hanya dijadikan barisan penonton yang PERMISIF … untuk menerima NASIB seperti yang ditentukan oleh mereka dengan cara2 sekehendak hati mereka sendiri.

Bangunlah Orang Indonesia … MELEK MATA dan LAWAN mental korup yang ada didalam diri kita sendiri. Korupsi bukan hanya urusan KPK , Korupsi adalah penyakit mental kita bersama

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara