Bedanya profesi dan hobi

Pragmatisme pekerja Politik yang mengawal MASYARAKAT AWAM & bersifat umum dalam menjalani cara2 ber-peri-kehidupan yang normatif [sistim Hukum] memang selalu berpijak pada landasan berpikir RASIONALITAS berdasarkan Fakta2 Empirik Fenomenal.

Profesi2 profesional tersebutlah yang juga akan bertugas untuk menyikapi sebuah Situasi & Keadaan apabila SITUASI & KEADAAN tersebut telah melahirkan DAMPAK yang ditimbulkan (yang biasanya adalah akibat2 yg bersifat: tidak menguntungkan/negatif/buruk)

Sedangkan kaum SENIMAN/PENGGIAT BUDAYA , tidak mengabdi pada pragmatisme yang sedang terjadi atau berlangsung. Namun kepada KEPENTINGAN HIDUP berjangka panjang yang juga melibatkan unsur2 pragmatisme itu sendiri didalamnya. Karena sebab itulah ‘pragmatisme’ SENIMAN bukan skala prioritas sebagai panduan menentukan sikap untuk menjalani sistim dan cara2 Ber-Peri-KEHIDUPAN

Seniman hidup didunia NEUMENAL / IDIIL untuk melahirkan gagasan2 dan rencana2 baru yang tak mampu dilihat / terbaca oleh pelaku Pragmatisme kehidupan [yg dikelola oleh dunia ‘Politik’ Praktis].

Kami merasakan AIRMATA yg masih menggantung diujung helai rambut. Mereka baru menyadari ketika AIRMATA telah jatuh menetes membasahi wajah

Kaisar Jepang [Hirohito] bertanya : “Berapa banyak kaum Biksu/Agamawan serta Seniman/Budayawan yang masih tersisa … mereka itulah yang diperlukan untuk membangun kembali Jepang dari reruntuhan puing2 Perang Dunia. Sayangnya di negeri ini … seniman sebatas dipahami untuk kemudian ditempatkan sebatas sebagai para penghibur

Masyarakat yang tercipta , adalah para penonton2 yang mengagumi liukan indah tubuh para penari , nyanyian2 merdu yang disuarakan … tanpa kemampuan untuk menyerap esensi NILAI yang sedang hendak disampaikan.

Demikian pula halnya dengan akibat yg terjadi diwilayah praksis : “KPK hanya ditepuk tangani karena sebatas berani menyeret para pelaku korupsi … namun tanpa melahirkan EFEK JERA yang menjadi kepentingan skala prioritas & harusnya bisa dirasakan sebagai pembelajaran bagi semua orang.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara