dapet apa elu

duit? ; nggak tuh
posisi? ; posisi apa
jabatan? ; jabatan apa
puas sendiri seperti orang masturbasi? ; hm, iya sih kadang2

– : jika hanya kepuasan sendiri yang elo dapat , apa manfaatnya?
+ : “manfaatnya gw punya alat kontrol untuk nggak ikutan jadi gila”.
– : Nggak takut kesepian?
+ : “gw lebih takut pada keramaian yang sepi” , elu berpikir gerombolan elu itu adalah keramaian , sementara gw mikirnya elu hanya ngumpulin otot dalam kebisuan bathin yg mencekam , sudut pandang kita berbeda … itu masalahnya

anonymous : hmm.. kadang orang2 menjauhkan kita krn idealisme yg kita pegang teguh. namun sebenarnya mereka mengerti dan menghormati prinsip2 hidup org lain, tinggal bgmn gengsi dan lingkungan sekitar yg mempengaruhinya

+ : jika bicara tentang PRINSIP , maka ada hal2 yang memang sulit untuk tidak boleh diabaikan begitu saja. Salah satunya adalah sbb:

Dalam dunia seni (musik) yang saya geluti , hasil itu adalah sebuah perjalanan proses yang menempuh berbagai penyelesaian mengatasi berbagai pertanyaan2 tehnis maupun non tehnis yg menyeluruh.

Kebutuhan untuk melakukan ‘kompromi’ agar kita tidak terjebak pada sikap pembenaran diri sendiri lebih mudah dilakukan bagi aktivitas/kegiatan lain selain musik [azas pembenaran pragmatik].

Dunia musik saya adalah rentetan ‘peristiwa’ yang butuh penataan secara runut (tehnis & non tehnis diatas) bukan seperti membuat roti , dimana tak ada gula pasir maka madu pun jadi. Komposisi musik yang paling sederhana terdengar sekalipun (ingredients minimalis) harus menjadi persoalan ‘rasa’ yang memang direncanakan dengan cara2 yang tidak bisa instan

saya lebih suka mengatakan : ini masalah SIKAP dalam menghadapi setiap permasalahan , bukan PRINSIP. Prinsip lebih tepat untuk diletakkan dalam konteks ‘Baik atau Buruk’ . Tidak pernah saya menemukan partner/rekan kerjasama yang berprinsip ‘buruk’ , semuanya relatif baik … namun hambatan2 yang kerapkali pula sy hadapi adalah ‘sikap’ orang2 yang senang memotong cara dan menempuh jalan pintas.

Akibatnya sebesar apapun gagasan yang ada didalam benak kepala … selalu berakhir dengan ‘apa adanya’ mengulangi apa2 saja yang sudah pernah kita capai sebelumnya

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara