status di facebook

No comment dah [di facebook] , nanti saya dibilang keminter lagi …. baca saja sendiri : Orang-Orang pintar di Zaman Edan … [oleh Anhar Gonggong] Kompas 9 Desember 2012

Jangan takabur dan mata gelap asal DEMOKRASI , lalu merasa sudah paling betul sendiri di planet bumi ini. Lihat tuh … Texas sebagai negara bagian dari sebuah Negeri yang katanya paling adil karena merasa paling demokratis sedunia saja bisa berpikir mau REFERENDUM

Tau nggak artinya referendum? … ya mirip dengan Timor Timur. Seperti halnya yang kerap saya katakan disini [facebook] : “ente butuh saya dan saya butuh ente? … mari kita duduk dan bicara disatu meja , kalo nggak gitu … ngapain juga saya nongkrong didepan ente cuman buat ngeselin ente aje” [alias = remove / delete / unfriends]

[kutipan ulang:] > Intisari dari pendapat saya selama ini:

demokrasi itu alat/mekansme/cara yang berfungsi untuk mengatasi persoalan2 diberbagi aspek/bidang :

a. aspek Hukum … ukuran baik jika dilihat dari kebutuhan global (pengertian global itu relatif , disini dipahami global = standarisasi yg ditentukan oleh sistim hukum dari negara2 yang sudah maju , bukan lagi berkembang seperti ngendonesah) . Misal kasus hukum yang berkaitan dengan issue terroris dsb. Faktanya terroris itu muncul karena ada orang2 yang hidupnya terancam karena diancam lewat cara2 penjajahan ekonomi yang tidak berkeadilan. Bukan semata ada orang pengen nge-bom bunuh diri karena iseng atau hobi mainan mesiu

b. aspek ekonomi … disini ukuran pertumbuhan ekonomi dilihat dari kepentingan ekspansi ekonomi asing yang menanamkan investasinya. Yang sekedar menjadikan Indonesia sebagai PASAR bagi produk2 industri mereka , pasar bagi barang2 produk budaya ciptaan mereka sendiri , yang membuat paradigma budaya kitapun secara perlahan tapi pasti … menjadi tergantung 100% dengan produk budaya asing

Jika saya anggap 2 (dua) hal itu saja dulu yang menjadi acuan / terminologi bagi makna pembangunan … maka sudah seyogyanya memang tahapan awal hal tersebut adalah konsekuensi yg tidak bisa dihindari sebagai langkah/modal awal untuk maju. Tapi sudah seharusnya disertai dengan kesadaran untuk secara bertahap harus MANDIRI. Bukan malahan ongkang2 kaki lalu “yang penting ada duit masuk” , walau jadi kacung atau kuli kembali . Alih2 jualan babu disebut devisa negara

Mandiri itu artinya belajar dengan tekun untuk bisa menciptakan mesin2 produksi yg nantinya untuk menunjang kebutuhan dasar hidup yang sesuai dengan paradigma hidup dari masyarakat bangsanya itu sendiri. Keterbiasaan mengkonsumsi tempe? ya ciptakan industri perkebunan kedelai sampai pabrik tahu tempe … bukan malah ngantri kedelai dari kebun orang lain. Bukan malahan terus2an semakin lebar membuka pintu2 investasi asing , sambil mengganti beras / nasi dengan (misalnya) kentang atau gandum sebagai menu pokok kebutuhan pangan/makanan khas se-hari2

Demikian seterusnya … yang terjadi diberbagai aspek / bidang yg lainnya. Kita maju … maju dari kacamata siapa? , pertumbuhan berkembang pesat … pesat dari isi ndase’ siapa? , kita modern …. modern dari mripat tekok gundule sopo?

tingkat yang mengkhawatirkan sekarang ini adalah :

Sudah banyak orang2 pintar muncul dipermukaan , tak lagi minim seperti dimasa lalu. Namun , anehnya orang2 pintar tersebut tak juga membawa perubahan yang sebagaimana semestinya , artinya apa?

Artinya : Sudah banyak PENGHIANAT yang memang mau menjadi antek2 penjajahan , yang kerjanya MENJUAL NEGARA

Yang satu SEJARAWAN yang satu SENIMAN … nggak ada urusannya dengan politik praktis dan kekuasaan. Jangan disamakan asal BERITA dari KORAN

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara