duh gusti

Terkadang hati dibuat ‘jengkel’ menjawab pertanyaan bertubi dari temen2 atau orang yang tidak tahu apa yg dihadapi para seniman: “mas , om , pak : kapan ada kegiatan konser , rekaman , bikin musik , bikin lagu dst …” .

Tapi itu ya resiko dari tumpulnya media informasi yang tidak memiliki paradigma mencatat aktivitas kegiatan seniman lokal sendiri sebagai sebuah sistim dokumentasi yang utuh. Media cenderung hanya berkutat memperhatikan dan melayani apa yang menjadi kepentingan kapitalis pragmatis , ‘pasar baru’ yang harus dilayani

Dimanapun diseluruh dunia , yang namanya Industri musk pop memang cenderung berkepentingan dengan aktivitas anak2 baru [abg] … selain secara fisik lebih menarik untuk jualan , faktor lain yang lebih penting adalah : orang dewasa sudah banyak mengerti tentang hak ekonomi dan hak untuk diperlakukan layak sesuai dengan keuntungan2 materi yg sudah diperoleh oleh industri musik itu sendiri selama mereka bekerjasama di-masa2 sebelumnya. Orang dewasa juga selalu punya tuntutan apresiasi yang berbeda dengan anak baru gede , sebab persoalan orang dewasa memang sudah berbeda dengan persoalan anak baru gede

Untuk itu saya tidak bisa bicara panjang lebar lagi … masak sih harus menjelaskan satu persatu kepada semua orang/temen2 yang saya temui dijalanan. Suatu ketika Rendra pernah berkata : “mungkin kita harus bawa tape recorder ke mana2 , supaya tinggal muter kaset yang isinya pidato”

Beruntunglah saya sebagai generasi yg lebih muda dari Rendra , masih berkesempatan mengenal tehnologi digital , internet dan lain2 untuk bisa bikin media sendiri buat ngomong … ya , saya ibarat bikin koran sendiri , bikin majalah sendiri , bikin kolom musik saya sendiri … nggak pathek’an dengan paradigma ‘pembeli’ , wong tugas hidup saya itu mengabdi , sukur2 dapat duit … barulah itu namanya rejeki , nggak dapet duit ya jalani saja … emang bisa apa? mau protes? protes sama sape’ … protes sama tetangga yang jualan lumpia? hadoh!

lebih konyol lagi jika berhadapan dengan orang2 yang getol melakukan ‘perbandingan’ , antara apa yang terjadi dinegara maju , apa yang dilakukan oleh musisi2 lain dinegara mereka yang relatif lebih lengkap & tertata infrastruktur hardware maupun softwarenya [sdm] … dengan dinegeri ini yang ibarat saya masih harus bikin ‘program’ sendiri … setingkat basic/cobol/fortran/pascal dlsb … *pengen tak cutes aja rasanya*

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara