manja ah elu

Konon orang Indonesia sampai dengan jaman ini disebut sebagai bangsa yang manja … mari kita telusuri definisi manja yang dimaksud diatas. Saya akan mengawali dari apa yang ada pada diri saya sendiri , yang juga seringkali dikaitkan dengan sebutan manja.

Sebutan manja tidak bisa digeneralisir untuk diletakkan pada setiap kasus permasalahan yang ber-beda2 , sebagai contoh : Orang menyaksikan istri saya yang tampak sedang mengambilkan makanan (meracik) didepan meja prasmanan , disebuah perhelatan pesta perkawinan. Sementara saya sendiri sedang asik terlibat dalam obrolan ber-bincang2 dengan berbagai orang yang saya temui. Tidak hanya satu dua orang yang akan berpikir: ‘manja banget sih … makanan aja nyuruh bininya yang ngambilin dst’

Orang suka ‘gebyah-uyah’ , bahwa kesepakatan suami istri diantara saya dan istri adalah membangun paradigma2 tertentu lalu menjaganya bersama2 , sesuai dengan peran dan kewajiban masing2 yang harus berjalan dengan sendirinya , artinya tanpa disuruh dan diminta lagi. Itu yang kami sebut sebagai KESADARAN yang melahirkan konsekuensi dan kewajiban , baik secara prinsip maupun dalam menghadapi situasi2 yang kasuistik

Sahabat2 saya juga sering bilang : ‘elo takut amat sih ama bini , kalau pergi harus dikawal melulu’ ; … hehe males deh jawabnya. Emangnya kalau sudah dikawal itu berarti saya mengejar julukan suami yang bersih , setia dan pasti nggak akan neko2 lagi? , salah! … kalau memang dasarnya mau ‘belok’ ya belok aja … belagak aja ke wc atau ke toilet atau 1001 alasan yang gampang dicari agar saya bisa ‘cium2 kecil atau cium2 besar’ dengan siapa saja yang mau saya tiduri , tanpa pernah sekalipun bisa dicurigai

Sebutan manja itu saya peruntuk/maksudkan bagi orang2 yang suka ‘ngalem/di’alem’ tidak pada porsinya. Misalnya Istri yang suka ngalem suaminya didepan orang : “ih … papah jangan suka begitu ah pah” ; sementara lakinya megal megol doyang-doyong mesem2 sambil kegirangan karena di’alem istrinya sambil ditonton orang banyak , seperti masa kecil yang kurang bahagia

salah dan kelirukah kemanjaan2 yang atraktif seperti itu? … menurut saya tidak salah , sejauh itu menjadi paradigma dari masing2 kesepakatan yang hanya untuk dilakukan diruangnya masing2 . Tetapi menjadi ‘TIDAK PANTAS’ ketika hal tersebut diimplementasikan diranah publik yang memiliki parameter ukuran2 beragam yang berbeda [over acting]. Ini juga saya pahami sebagai ‘paradigma budaya’ , yang jika diteropong lewat perspektif adat-istiadat , maka setiap adat istiadat juga memiliki watak & karakternya sendiri2. [dimulai dari adat istiadat dari setiap keluarga]

Lalu bagaimana caranya saya menjawab ‘ANOMALI’ , ketika sesuatu yang tidak pantas tersebut dilakukan oleh istri saya ketika mengambilkan saya makanan (seperti cerita diatas)

Saya berupaya untuk sedapat mungkin menetralisir-nya dengan mengucapkan : “tolong yaaa , ambilkan saya makanan” , saya mengucapkan dengan sengaja [agak keras] agar orang2 disekitar saya turut mendengar bahwa saya meminta tolong lepada istri saya [padahal didalam hati kami , saya & istri sudah sama2 tau]. Itulah tadi upaya saya untuk mengurai definisi kemanjaan dilevel personal keluarga.

Lalu , seperti apakah kemanjaan2 yang tidak proporsional ditataran hak dan kewajiban sebagai masyarakat hingga bangsa yang ber-negara?

Saya bisa berteman baik , bisa bersahabat baik , bisa membina satu kerukunan bersama , berbagi suka dan duka dng siapa saja … itu semua ada diwilayah koridor pergaulan Ber-Bangsa . Tetapi ketika saya bekerja secara professional dan harus taat pada prosedur2 aturan Formal … kenapa jadi ‘berantem’ ya? < inilah yang disebut wilayah Ber-Negara , yg justru memicu terjadinya konflik ditengah masyarakat dimana saat kita Ber-Bangsa tidak menemui masalah apa2 : Apakah tujuan Ber-Negara itu memang bermaksud untuk membuat kita agar saling berselisih dan bertikai? . Apakah tujuan agama itu juga serupa? … siapakah yang MANJA yang hanya pengen & mau yang enak2nya saja

Ber-hati2lah jika menjalin kerjasama dengan jsop , biasanya selalu diakhiri dengan perasaan2 yang serba ‘nggak enak’ jsop itu kontroversial dlsb

Stigma kuno dan jadul … sudah biasa itu saya . Maka sekali lagi saya bertanya “siapakah yang pantas disebut manja yang hanya pengen & mau yang enak2nya saja”

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Comments are closed.

elektronik sigara