fenomena roda gila

janganlah mengkritik terus , sekarang ini waktunya untuk semua orang harus berpikir positif mengatasi bencana banjir. Semua pihak harus menahan diri dan berbuat langsung yang konkrit

salah besar … itu paradigma berpikir yang dibangun dari warisan jaman dulu yang membuat kita semua tidak pernah tuntas dalam menyelesaikan masalah.

Banjir yang terjadi sekarang ini adalah akumulasi dari kekeliruan sistim penataan ruang yang sudah berlangsung lama dan didiamkan. Banjir di Jakarta adalah cermin dari kekacauan dari seluruh unsur2 pekerja di administrasi pemerintahan yang bertugas mengurus dan harus bertanggung-jawab. Banjir ini adalah ‘tsunami kecil’ dari kemungkinan ‘tsunami besar’ yang bisa menerjang Indonesia sebagai Negara

Ada struktur bidang2 sosial kemasyarakatn (kesra) yang harus bekerja untuk menanganinya sendiri disamping partisipasi masyarakat langsung yang digerakkan oleh empati yg semakin terkikis. Ada struktur lembaga swadaya masyarakat sebagai alat kontrol-sosial yang juga tetap bekerja untuk melakukan cross-check dilapangan. Ada struktur dari komponen masyarakat yang harus tetap konsisten melakukan kritik dari sudut pandang atau perspektif holistik

Pikiran2 kritis yang lahir dari kesadaran evaluatif juga disebut sebagai PRODUK BUDAYA , disebut produk budaya berpikir sebagai sumbangsih bagi pelaksanaan PRODUK BUDAYA implementatif. Artinya , saya pun disini tetap berfungsi sebagaimana peran & fungsi saya sebagai seniman. Produk seniman musik yang berbentuk musik adalah produk dari cara berpikir yang dipikirkan oleh si seniman musik itu sendiri.

Membungkam diri dari KRITIK karena himbauan dari warisan masa lalu yang saya sebutkan diatas , hanya semacam obat penenang sejenis valium atau xanax agar kita bisa segera tertidur dengan pulas kembali seperti sediakala … lalu kembali LUPA dengan PR kita yang sebenarnya , begitulah selama ini ‘roda gila’ tersebut berputar2 berulangkali tanpa ada yg mampu membuatnya berhenti. Roda Gila dari Jaman Gila [edan] hanya bisa dikendalikan bersama

Tsunami 2006 di Aceh , adalah benar jika disebut sebagai bencana alam , sebab dia muncul dari akibat pergeseran lempeng bumi yang diluar jangkauan kekuasaan manusia untuk bisa mengantisipasi / mengendalikan. Namun banjir di Jakarta tidak bisa dikatagorikan sebagai bencana akibat perilaku ekstrim alam. Banjir ini adalah akibat keserakahan manusia yg diwakili oleh para pejabat2 administrasi pemerintahan negara. Mereka hanya sibuk berebut wilayah kekuasaan dan saling melemparkan tanggung jawab apa yang menjadi konsekuensi2 buruk yang harus dirasakan rakyat. Harus ada pihak2 yang bertanggung-jawab , seperti halnya Lapindo dalam skala yg berbeda , yang kini hanya hantu malam yang dituding sebagai pihak2 yang bertanggung jawab. Kita masih saja terus disuruh berburu hantu malam? siang aja susah apalagi malam2

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

Comments are closed.

elektronik sigara