parasit budaya

Bangsa yang hidupnya hanya bergantung pada temuan TEHNOLOGI [produk budaya] bangsa lain , akan selalu ter-gopoh2 berjalan merangkak sempoyongan setelah jidatnya menabrak dinding tembok yang ada dikiri-kanan. Ini paragraf yang saya gunakan untuk menjadi kata pembuka. Saya tidak akan melibatkan banyak contoh kasus tehonologi untuk dibahas disini , supaya nggak kebanyakan kasus yang malah bisa membingungkan [nggak fokus]

Kesejahteraan itu bukan refleksi dari kemampuan menggunakan serta menguasai temuan tehnologi orang lain saja , tetapi dari kemampuan setiap orang menciptakan. Sebab hakekat tehnologi adalah pengembangan ilmu dari setiap orang untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan hidupnya sendiri. Setiap orang yang kemudian disebut menjadi komunal masyarakat , lalu ber-Kebudayaan hingga maju yang dapat melahirkan temuan2 tehnologi sesuai dng tuntutan dari Kebudayaan masyarakat ybs

contoh tehnologi pesawat terbang: orang harus bergaul dengan alamnya terlebih dahulu , mengenali apa itu gravitasi gaya tarik bumi , daya lifting akibat panas bumi , mengenali cuaca yang melibatkan tekanan arah angin serta berbagai hal mendasar lainnya sebelum akhirnya mereka mampu merancang sayap , tenaga dorong , hingga instrumen2 lain yang ada didalam cockpit pesawat. Ketika hari ini mereka mampu mewujudkan apa yg dikenal dengan ‘Instrument Flight’ [terbang berdasarkan perintah instrument] , mereka sudah melewati fase2 dimana disebut ‘Visual Flight’ , terbang berdasarkan petunjuk mata dan rasa-rasa [feeling]

Bangsa yang saya sebut di paragraf teratas , yang taunya hanya : ‘on lalu enter’ dimana dalam sekejap apa yang dibutuhkan bisa terwujud … akan ter-gagap2 ketika tehnologi pinjaman yg digunakan mengalami gangguan2 tehnis , sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu tehnologi itu tidak pernah sempurna dan dianggap selesai. Seperti biasanya juga yang selalu terjadi … orang2 tersebut pasti akan bilang: “Human Error” … betul sih memang human error , tapi error bukan semata keteledoran dalam mematuhi SOP saja , namun dari hal2 yang paling basic / mendasar. Ya karena hanya bergantung dari temuan tehnologi orang lain alias “bergantung pd watak KEBUDAYAAN orang lain”

Bagaimana dengan tehnologi telpon sebagai alat untuk berkomunikasi. Dulu saya pernah mengalami masa2 dimana telpon rumah itu barang langka , lalu tuntutan kebutuhan hidup memfasilitasi adanya telpon umum yang ada di pinggir2 jalan. Kini … apakah HP sudah lebih menjawab tuntutan dari persoalan kebutuhan hidup bagi Kesejahteraan yang dituju? atau justru merepotkan? Kenapa temuan tehnologi yang berfungsi untuk mempermudah komunikasi koq malah jadi merepotkan?

Bagaimana dengan dunia musik pop , apakah tehnologi sampling , system quantized , system manipulating , system auto-tunning dan lain2 sudah menjawab serta memfasilitasi ekspresi yang hendak disampaikan? atau malah terjebak menjadi seni-PoP yang hiper-artifisial bahkan absurd. Atau jangan2 malah nggak tau apa itu hiper-artifisal dan apa itu yang dimaksud dengan seni-absurd , celaka 12

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

Comments are closed.

elektronik sigara