UN dari kacamata seniman

Kalian memahami dengan baik bagaimana struktur organisasi ke-pemerintahan-an pusat itu harus bekerja secara sistimatis. Kalian menguasai pula cara-cara mesin politik bekerja guna mendorong roda organisasi di pusat bisa berputar dengan baik. Tetapi 1 [satu] hal yang kalian tak-abai : “kalian menata semua persoalan dari balik jendela” , tanpa mau pusing dengan realitas apa yang terjadi diluar sana …

– Presiden mengatur Menteri … tentu mudah dan sangat bisa dilaksanakan
– Menteri mengatur aparat kementerian … sampai level Dirjen masih ‘nyandak’
– Dirjen mengatur aparat2 dibawahnya … jawab saja sendiri2

[Para Pemimpin tidak menguasai sampai ke DETAIL persoalan] , dipihak lain :

Orientasi tujuan yang menjadi panduan [pandangan hidup] bagi Masyarakat kini kabur , membuat tatanan sosial yang terjadi di ‘bawah’ morat-marit tidak terkoordinasi dengan baik , tidak ada lagi berbagai ‘mekanisme-sosial’ untuk mengendalikan gerak komunal

– Masyarakat paham detail? … jawab saja sendiri2
– Masyarakat tau kemana arah pembangunan Negara? … jawab saja sendiri2
– Masyarakat taunya dapat duit dng segera dan bisa cepat kaya? … ehm!

Kenapa pelaksanaan UN berantakan? … jika saya adalah mata KPK , maka mata saya sudah melotot semenjak lama menunggu siapa yang bisa segera saya tangkap. Langkah2 darurat / emergensi / kebijakan situasional … ? orang2 pada takut ditangkap KPK

Siapakah yang dimaksud itu?

Oportunis-oportunis yang biasanya selalu memanfaatkan bisnis lewat peluang ‘cacat-struktural’ dari tatanan sosio-kemasyarakatan yang semakin amburadul

Jangan bicara tentang Ujian Nasional dari azas ‘manfaat atau tidak’ , jangan pula berpikir dangkal dengan mem-banding2kan UN dengan persitiwa2 pendidikan di negara lain yang jelas2 berbeda orangnya [kulturnya]. Berpikirlah DETAIL

Akan kita temukan bagaimana ‘BENANG-BENANG’ saling terputus tak bersambungan , namun ditumpuk dalam satu keranjang agar tampak itu adalah tumpukan BENANG PANJANG.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ UN dari kacamata seniman ”

  1. jadi cuma tumpukan potongan benang-benang yang belum tentu bisa disambungkan menjadi benang panjang?

  2. [dalam konteks hukum] bukankah itu merupakan ‘hutang’ dari janji konstitusi yang seharusnya menyambung berbagai ujung2 benang agar menjadi kesatuan benang panjang

    [dalam kasus pendidikan] bukankah pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari domain Hukum untuk melahirkan satu ‘kebenaran’ kaum terdidik sesuai yang diharapkan

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara