pelurusan pikiran

PENYESATAN PIKIRAN yang membodohkan generasi musik pop Indonesia:

Badai Band itu kerja kolektif , dari mulai nama2 seperti Ronny Harahap , Keenan Nasution , Fariz RM , Odink Nasution sampai Chrsiye dan saya sendiri. Sedangkan Badai Pasti Berlalu itu Erros Djarot , Chrisye , Debby Nasution dan Saya sebagai arsitek musik dan CO Writer. Badai PAsti Berlalu bukan Chrisye seorang diri bukan pula Erros Djarot sendiri atau JSOP seorang diri

GodBless [dalam pemahaman saya] itu juga kerja kolektif , bukan Achmad Albar sendirian atau siapapun juga . Paling tidak untuk meng-klaim karya2 yang dilahirkan selama ada keterlibatan saya disana. Tidak dikenal istilah ‘mantan’ bagi sebuah KARYA CIPTA. Karya itu ibarat anak kandung yang nonsens untuk boleh diperlakukan layaknya mantan istri. [Undang2 Hak Cipta]

Kantata Takwa itupun kerja kolektif : WS Rendra , S.Djody , Saya , Iwan Fals , S Jabo … Rendra sebagai Pemikir yang merumuskan kontent konsep berekspresi , S.Djody sebagai maecenas , saya bertindak sebagai producer musik yang membawahi otoritas music director , arranger , player … serta hal2 yang bersifat non artistik > tehnical supporting production. Kantata Takwa bukan Iwan Fals seorang diri bukan pula S.Djody seorang diri , bukan jsop seorang diri bukan pula WS. Rendra seorang diri.

Hormatilah PROFESI secara PROFESIONAL , selalu ada struktur hirarki berdasarkan KOMPETENSI yang wajib diterapkan dalam sebuah sistim ber-organisasi yang profesional. Industri dagang … punya kepentingan untuk memanfaatkan produk seni sebagai ‘kendaraan tumpangan’ mempromosikan produk2 dagangan. Sah-Sah saja … tapi jangan biarkan ketika Industri ‘meracau’ melahirkan istilah2 baru dengan cara-cara sesukanya sendiri

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara