ndasku somplak

Menggunakan ilmu apa saja harus memahami KARAKTER dari budaya lingkungan hidup yang membentuknya terlebih dulu , barulah ilmu akan membawa manfaat buat manusia

Ilmu bermusik … mau sampeyan dari berkley atau dari ‘planet mars’ tak akan ada gunanya sebagai medium ekspresi lewat bahasa yang dipahami universal , jika sampeyan apolitis terhadap masalah2 sosial yang ada disekitar anda sendiri. Ilmu Politik .., mau sampeyan dari harvard atau dari sekolah ‘goa hantu’ mana saja kalau nggak mudheng dengan persoalan yang terjadi dikampung halaman sendiri sampeyan tak ubahnya srigala yang memakai jubah dari bulu domba. Demikian pula Ilmu Agama … nggak capek2 ente ngomongin agama? agama bukan buat diomongin

Saat ini kita berhadapan dengan sebuah SISTEM yang harus kembali diluruskan *itu yang saya pahami*. Yang disebut ‘sistem’ adalah cara bekerjanya satu mekanisme aturan yang dikendalikan oleh mayoritas para penentu kebijakan. Untuk itu harus berani ‘PASANG BADAN’ guna ber-hadap2an dengan mayoritas termaksud … saya sudah pasang badan sejak dulu , saya berani melakukannya tanpa perlu merasa paranoid ketakutan jika harus menjadi miskin ketika harus berjuang …

Paham dulu … KONSEKUEN kemudian , agar kelak kita bisa bergegap gempita untuk bersorak “Hiduplah Indonesia Raya”

Masyarakat tradisi/adat , melihat secara faktual terlebih dahulu keperibadian seseorang dan kontribusi yang dilakukan , ketika mereka hendak mengangkat seseorang tersebut untuk dijadikan sebagai pemuka masyarakat [tokoh dsb] . Demikian seterusnya hirarki struktural bagi jenjang ‘pemilihan’ yang berlaku [dipahami secara UNIVERSAL]

Bagaimana mungkin bisa terjadi dan sudah dianggap biasa2 saja , ada ‘tokoh’ yang meng-atasnama-kan masyarakat/rakyat , sedangkan masyarakat/rakyatnya sendiri tidak pernah tau menahu dan mengenali kontribusi2nya selama ini bagi mereka . Hentikan proses2 pembodohan … hanya itu satu2nya cara untuk melanjutkan keinginan untuk menjadi ADIL dan SEJAHTERA

Musik Indonesia itu musik yang mewakili persoalan orang/Bangsa Indonesia. Bagaimana mungkin Bangsa-nya sedang ‘sakit dan menderita’ , namun gembar gembor petakilan bicara musik berbobot , musik bergizi , musik bertenaga dan seterusnya sambil menutup mata ‘membajak’ hak hidup dan hak2 atas karya orang lain. Mereka itu cuma bisa main musik , namun otaknya penuh ‘sampah’

Agama Islam?, ini Indonesia bukan ARAB , [titik]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara