koq susumu kecut , bu?

Aku seniman yang tak pandai berdagang , tak mahir pula mengelola persepsi dalam konteks domain strategi ekonomi. Mungkin aku ibarat kaca yang transparan … namun ada sebagian dari tubuh ini tak seluruhnya kujadikan menjadi transparan , bagian yang memantul balik satu arah mencerminkan apa yang sedang ada dihadapannya. Aku membaca hidup dengan hati telanjang , terkesan naif bagi kaum politisi yang suka sekali berperan layaknya cendekiawan

Sudah semenjak belasan tahun silam pasca tragedi Mei 98 aku sering bertanya-tanya , saat kulihat begitu pesatnya proses renovasi kerusakan fisik yang diakibatkan dari peristiwa diatas. Gedung-gedung pencakar langit yang berubah wujud lebih mirip seperti barisan kuburan beton karena ditinggalkan oleh pengelolanya … dalam sekejap mampu menampakkan keangkuhan serta kesombongannya kembali. Bahkan jauh lebih megah mempesona lewat sensasi obyek dari berbagai sudut pandangan mata

Hanya satu pertanyaan bodoh yang selalu menggelayut merengek layaknya bayi yang menuntut air susu dari puting tetek ibunya … uang siapakah semuanya ini , darimanakah datangnya mujizat yang terasa teramat tiba2 ini. Logika sederhana yang lahir dari kewarasan akal sehat berpikir tak mampu menjawab … bagaimana bisa terjadi ada sebuah pertumbuhan ekonomi yang mampu bangkit kembali dalam kurun waktu relatif singkat tanpa bisa menunjukkan adanya sektor produksi sebagai pilar-pilar penyangga utamanya. Tak ada tanda-tanda identitas diriku sebagai orang dari masyarakat bangsa Indonesia saat kuteliti satu demi satu apa yang ada didalam , apa yang mereka tawarkan , bahkan apa yang sekedar mereka pertontonkan. Semuanya nyaris identik dari produk kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa asing. Tidak perlu waktu yang lama agar mampu merumuskan sendiri jawaban atas kebodohanku selama ini … generasi APBN sebagai bidan yang kemudian melahirkan jabang-jabang bayi bertajuk masyarakat berketergantungan pada subsidi sampai saat ini.

Ibu … bukalah selalu kutangmu , agar kami bisa terus menetek padamu. Jangan ibu minta kami untuk bekerja seperti apa yang dilakukan oleh ayah dulu. Jaman sudah berubah ibu … Ibu … koq air susumu terasa kecut dilidahku … ?!

[soundcloud url=”http://api.soundcloud.com/tracks/56245844″ params=”” width=” 100%” height=”166″ iframe=”true” /]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara