menjelang 17-08-2013

Awalnya memang semata melawan penindasan kolonial penjajahan , “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” , kemudian mengenyampingkan segala macam/bentuk perbedaan , Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Berikutnya semakin bulat kesadaran untuk bertekad mengapa harus bersatu menjaga kedaulatan wilayah bersama: a. kesadaran Romantik yang diusung oleh paradigma kultural , b. kesadaran Dinamik yg harus selalu bergerak/berubah untuk melangkah lebih baik c. kesadaran Dialektik untuk harus bermusyawarah mufakat sebelum maupun saat berpolitik ; Bung Karno menjelaskan itu semua. Itulah alasan mengapa kemudian kita harus & butuh bersatu dalam ber-Negara yang sama

Ketika kesadaran Romantik [sejarah] tak diabaikan , tak dihormati serta dilupakan maka kita bingung mengenali identitas diri kita sendiri dari entitas bangsa yang seperti apa.

Ketika kesadaran Dinamik mengadopsi demokrasi yang tidak berakar dari kesadaran Romantik sub-bangsa2nya sendiri kita bingung & bertikai antar sesama kita sendiri.

Ketika kesadaran Romantik dan Dinamik menjadi serupa diatas maka kesadaran Dialektik adalah dialektika antar pemangku kebijakan/kekuasaan yang hanya berbunyi : aku punya kuasa dan kau punya apa ; “aku punya materi/harta” , jawabnya

Pihak2 lain yang berada diluar jangkauan diatas … salah sendiri kenapa lemah dan miskin , silahken mati saja. Menyambut Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 … kembali kepada perlawanan kepada sistim penindasan , yang kini dilakukan melalui tangan2 kotor dari sesama warga negara bangsa Indonesia sendiri … mengerikan!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara