Produk Budaya kultur PoP Indonesia

Tadi malam [31 agustus 2013] di Jogya sempat saya eksplorasi tentang (apa itu) yang saya maksud dengan ‘Produk Budaya’ serta bedanya dng ‘produk situasional’ yang bersifat ‘segmented’ serta berjangka pendek.

Produk situasional berjangka pendek , semacam upaya awal untuk mengadopsi tren budaya ‘barat’ yang sedang menjadi mode saat itu. Dan hanya melibatkan kalangan abg yang sedang aktif mengikuti perkembangan jaman yang terjadi (tataran global). Tema dan persoalan yang diusung biasanya selalu persoalan2 yang hadir dari setiap wilayah dimana masyarakat a/n global tersebut sedang mengalaminya sendiri.

Karena kita sebagai orang Indonesia dalam kehidupan yang nyata tidak terlibat langsung dengan persoalan mereka , maka paradigma itu disebut mode sesaat atau tren yang saya maksudkan dengan penjelasan diatas

Sedangkan yang saya maksudkan dengan Produk Budaya disini , adalah produk yang melibatkan persoalan nyata yang dirasakan dan dialami sendiri oleh masyarakat kita sendiri > dari paradigma secara geografi , antropologi dan sosiologi. konkritnya adalah : mengadopsi lalu untuk ber-PROSES meng-ADAPTASI. Proses2 mengadaptasi tentu harus menyentuh paradigma budaya yang berlangsung melalui berbagai perangkat2 budaya masyarakatnya sendiri yang sudah ada > kesadaran entitas (antropolog) dan kesadaran berbahasa lisan maupun tekstual (sosiolog) .

Kita tidak punya kultur untuk mengatakan cinta sambil ber-teriak2 atau mengutarakan pada pasangan kita masing2 ” eh … saya ingin deh tidur sama kamu” . Kultur masyarakat kita berbeda dengan perilaku bangsa Amerika yang notabene memang bangsa imigran , tidak punya warisan sejarah yang melahirkan tradisi seperti bangsa kita. Atau bahkan bangsa Eropa yang memiliki latar belakang peradaban monarkies yang sama

Saya akan beri sebuah contoh : Ketika Koes Plus mendendangkan tema lagu “Bukan lautan hanya kolam susu” lewat komposisi melodi yang terbangun , maka bukan hanya kelompok usia muda serta hanya berlaku dijamannya saja lagu tersebut bisa kita dengar [diterima dng baik oleh kuping] … hingga detik inipun ketika orang Indonesia mendengarkan lagu tersebut , dimanapun domisilinya dari sabang sampai merauke … pasti akan merasa terwakili. Itulah yang saya katagorikan sebagai Produk Budaya. Tentu bukan hanya Koes Plus saja yang sudah mampu menciptakan karya2 lagu dengan katagori sekelas Produk budaya .

Ini yang harus kita sadari , betapa perlunya pemusik (pop) Indonesia saat ini untuk menengok kembali , apa yang sudah dikerjakan oleh generasi2 sebelum mereka dimasa lalu.

Hal2 seperti diatas jelas tidak ada hubungannya dengan designed by industry … ini kegiatan masyarakat dalam ber-Kebudayaan dan membentuk perilaku Kebudayaan yang baik. [metamorfosa dari tradisi lama yang melahirkan TRADISI BARU > tradisi hari ini]

suatu saat anda mendengar lagu2 lama , katakanlah dari album badai pasti berlalu. Orang awam dengan mudahnya akan menyebut ‘evergreen / everlasting’ dan istilah2 lainnya yang mencerminkan sikap meng-apresiasi pada karya lagu2 tersebut. Namun tanpa mampu untuk men-deskripsikan apa maksudnya secara lebih jelas dan konrit lewat argumentasi2 yang lebih ilmiah serta terukur. ‘evergreen / everlasting dan seterusnya itu … apa & bagaimana definisinya?

Kesempurnaan melodi? … ah biasa2 saja , progresi not pop klasikal itu bisa kita jumpai di karya2 lagu orang lainnya. Arransemen? … tidak ada sesuatu yang luar biasa , walau saya sendiri tidak menyebutnya jelek. Lirik atau syair? … itu kisah2 biasa dalam dunia percintaan lewat ungkapan kalimat2 puitik [satra lisan] …. LALU mengapa? Badai Pasti Berlalu bisa menjadi sedemikian fenomenalnya?

Badai Pasti Berlalu adalah salah satu contoh dari Produk Budaya musik pop Orang Indonesia. BPB merepresentasikan paradigama romantika [dunia asmara] masyarakat orang Indonesia

anda mendengar Godbless (rock dalam bahasa indonesia] … mengapa banyak orang bisa merasa terwakili oleh keberadaan Godbless sebagai musik rock Indonesia? Apakah karena suara gitarnya keras? , vocalisnya Achmad Albar? , suara drumnya yang berdentum menggelegar dll? dan si yongki yg di sebut2 bisa main keq’ jhon lord?

Godbless adalah produk budaya ketika masyarakat Indonesia membutuhkan semacam katup pelepas untuk mengekspresikan paradigma pragmatik mereka. [protes,kesenjangan dll] . contoh lagu Kehidupan > “susu anakku” menjadi gimmick

Kantata Takwa dan lain2nya … apakah dipikir itu hanya karena faktor2 kebetulan semata?.

Kantata Takwa adalah term kebudayaan yang lebih luas dalam pemahaman pikiran seorang penyair > WS Rendra

Maka ketika ada pihak2 yang mewakili kepentingan dari siapa saja , atau industri dagang untuk melakukan remake atau re-arrangement Produk2 Budaya yang ada namun tidak melibatkan unsur peristiwa2 budaya yang menyertai lahirnya karya2 itu sendiri. Saya pastikan akan GAGAL TOTAL. Produk Budaya bukan sesuatu hasil dari cetakan pabrik , dia hasil olah pikiran / dialektika kultural. Bahkan bisa saya katagorikan ‘Kejahatan yang mencederai value berkesenian’ bila ada unsur2 pemaksaan kehendak

Hanya dengan keberanian untuk ‘menengok kebelakang’ orang bisa menyadari kekeliruan2 yang telah dilakukan , kemudian dapat mengevaluasi berbagai sikap bagi perbaikan langkah2 berikutnya kedepan. Rokenrol , fuck the mainstream!

—->>>>[landasan berpikir]< <<<—-

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara