ini bangsa itu negara

kalau masih pada inget tulisan2 saya terdahulu , sudah semenjak lama saya sering berpikir untuk mengatakan : ‘beresin urusan BER-BANGSA lebih dahulu barulah persoalan BER-NEGARA satu persatu akan lebih mudah untuk bisa teratasi kemudian’.

Itu artinya meletakkan dengan jelas dimensi KEARIFAN sebagai representasi Hukum Non Tekstual , yang didalam ideologi termaktub dalam Sila lV teks perundangan , disepakati dengan makna : bermusyawarah untuk bermufakat

Hukum Negara yg bersifat Positif [normatif tekstual] itu hanya OMONG KOSONG dan akan selalu membentur tembok , tak punya makna dan arti apa2 bagi upaya terselenggaranya kesejahteraan yang diharapkan berlaku adil , apabila Hukum non tekstualnya sendiri dinafikkan dan selalu saja diabaikan , dianggap kuno , nggak modern , ketinggalan jaman , Negara yang ‘MENJAJAH‘ Bangsanya sendiri

Emangnya jaman itu siapa yang punya? … memangnya siapa yang membentuk perilaku jaman itu sendiri . Teranglah dipikiran bukalah lebar2 matahati , hidup kita adalah ‘milik kita’ sendiri2

Sebutkan saja jenis penyakit sosial yang saat ini subur berkembang biak & cenderung tak bisa dikendalikan. Dari mulai persoalan remaja / anak muda / dewasa sampai pada orang2 tuanya sendiri, capek kita untuk mengikutinya. Bingung kita untuk me-milah2 setiap persoalan untuk menggunakan Hukum Negara yang mana.

Ujung2nya Hukum Negara berlangsung ‘dibawah meja’ atas nama musyawarah mufakat , untuk damai berkesepakat … < itu tidak lain dari sebutan MANIPULASI ke KORUPSI yang istilahnya diganti. Hukum Negara tidak boleh anomali , Hukum Negara adalah punishment & reward. Hukum Negara tidak untuk di musyawarahkan dan dimufakatkan selagi dia masih menjadi KETENTUAN bagi KEBENARAN PERFOMATIK

Akibatnya : setiap kali kita dihadapkan pada soal hukum , apalagi yang berurusan dengan sesama temen sendiri , selalu saja : “nggak enak lho … dia kan temen2 kita sendiri juga , atau bahkan kasian lho … dia kan anak kecil , apalagi dia masih ada hubungan sodara sama sendiri dlsb” . Lalu bagaimana bisa menegakkan Hukum dengan cara seperti itu?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara