tuna kebudayaan

Bangsa yang abai terhadap Kebudayaannya akan punah , cetus A. Syafi’i Maarif untuk kesekian kalinya.

Persoalannya bagi saya adalah : bagaimana caranya untuk membuat melek masyarakat tentang hal tersebut , wong saya dengan lingkungan kecil disekitar saya sendiri saja masih selalu kalang kabut … *sendirian lagi*

Untuk itulah saya berupaya keras untuk menemukan cara , salah satunya dengan melahirkan PRODUK BUDAYA yang bisa saya kerjakan / hasilkan sendiri. Kebudayaan tanpa produk budaya? itu omong kosong!

Setinggi apapun gelar-gelar ilmu yang telah dicapai , tanpa PRODUK yang bisa dia hasilkan sendiri , tak akan punya arti apapun selain sebatas makhluk yang taunya harus makan dan harus minum supaya tetap hidup , itu perilaku naluri purba yang berujung tindih2an sambil telanjang bulat setelah buka2an celana

Sedangkan yang disebut PRODUK BUDAYA tak akan punya tempat didalam satu KEBUDAYAAN jika tidak dilindungi oleh Hukum serta patuh pada disiplin dari setiap PROFESI itu sendiri. Apa masih kurang jelas saya ngoceh terus2an di fesbuk dan dunia maya ini .. bah!

nih saya ‘phetani’ satu persatu / step by step biar gampang dimengerti

a. musik pop yg saya kerjakan sepanjang hidup saya selama ini , harus dipahami sebagai: PRODUK BUDAYA dari KULTUR POP yg lahir dari tradisi baru. Berbeda dengan KULTUR Tradisi yang sudah melahirkan PRODUK2 BUDAYA Tradisi lama [tari2an wayang2an musik2 tradisional dlsb]

b. Produk Budaya PoP [tradisi baru] harus tetap mengakar pada kultur kebudayaan Indonesia. Penjelasan2nya adalah a/l : Produk2 kultur pop yang dilahirkan tersebut , harus muncul dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dirasakan oleh masyarakat yang juga mengusung sistim nilai nya sendiri yang disepakati. [politik/hukum/ekonomi/sosbud]

c. Untuk itu diperlukan langkah mendasar sebagai pembenahan awalnya yakni > DISIPLIN PROFESI

Artinya , apa yang saya sosialisasikan selama ini … masih dalam tahap meletakkan disiplin profesi tersebut. Inipun persoalan yang tidak mudah , sebab berkaitan dengan MINDSET / landasan untuk memulai cara berpikir dengan benar dan baik.

Jika persyaratan mendasar diatas sudah terlengkapi , maka Musik PoP sebagai PRODUK BUDAYA punya peranan didalam keikut sertaanya membentuk KEBUDAYAAN INDONESIA. Bukan sekedar penggembira.

Sedangkan yang disebut PRODUK BUDAYA dengan sendirinya nanti akan juga ber-hadap2an dengan Produk Globalisasi . Akan ada lagi masanya dimana Kualitas serta Originalitas menjadi PERTANYAAN2 BESAR (?) yang harus DIJAWAB. Namun ‘OJO KESUSU’ … sebab tidak akan ada GLOBALISASI kalau LOKALISASI-nya sendiri memble! . Jadi artinya > PROSES harus dirawat dengan baik , harus disertai dengan pemahaman yang utuh tentang makna keinginan melahirkan PRODUK BUDAYA dari KEBUDAYAAN INDONESIA.

Jadi … kenapa jsop itu getol menggugat dan menuntut dipatuhinya Undang2 Hak Cipta. Tidak boleh dengan sewenang-wenangnya lagi bisa memperlakukan karya2 orang lain untuk kepentingan ekonomi. Diletakkannya secara proporsional azas KEBENARAN yang dahulu kala sering dianggap ‘tabu’ untuk dibicarakan … Apakah jsop itu menuntut sejumlah materi / uang? Seberapa banyak sih jsop menuntut ganti rugi dalam wujud materi/uang tersebut?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara